Kopi, Sehitam Jelaga dengan Rasa Aneh

0
170

BAGI pecinta atau penikmat Kopi, pastinya mengenal nama Baba Budan dari India. Baba Budan adalah seorang Muslim pembawa perubahan peradaban Kopi yang akhirnya mendunia. Dari status terlarang dan di-”haram” kan, menjadi komoditi penunjang ekonomi.

Bermula sekitar Abad 16, saat Baba Budan berangkat ke Arab untuk menunaikan Ibadah Haji. Baba Budan dalam perjalanannya menuju Arab (Makkah) melalui Yaman harus beberapa kali bermukim di beberapa daerah untuk beristirahat. Dalam masa-masa beristirahat itulah dia melihat fenomena kebiasaan orang-orang yang gemar berkumpul dalam beberapa kelompok di berbagai lokasi sambil mengobrol dan menikmati “biji hitam” yang dicampurkan dalam minuman. Mereka kuat berjam-jam duduk mengobrol sambil menikmati “biji hitam sehitam jelaga berasa aneh” tersebut.

Begitupun saat Baba Budan tiba di Makkah dan bermukim beberapa hari untuk menunaikan Ibadah Haji. Di Makkah dia mendapati banyak tempat yang menyediakan minuman dan makanan bercampur “biji hitam” ini. Mereka menjadikan “biji hitam” tersebut sebagai “wasilah” kekuatan. Kuat dalam beribadah dan kuat dalam melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari khususnya para pekerja kasar.

Perlu diketahui bahwa Biji Kopi pada masa itu merupakan bijian terlarang untuk dibawa keluar dari Jazirah Arab. Bahkan jika ketahuan membawa bijian kopi keluar Jazirah Arab bisa sampai dihukum berat hingga hukuman gantung.

Orang Arab sendiri awalnya memperoleh biji kopi dari daratan Habasyah (ethiopia), yang kemudian dibawa masuk oleh orang-orang Arab untuk ditanam. Selain Arab yang menanam biji kopi, tercatat juga kopi sudah ditanam di Mesir yang juga dibawa oleh para pemuka Agama yang berasal dari Jazirah Arab.

BIJI KOPI BABA BUDAN

Baba Budan sebagai seorang “sufi” yang kesehariannya lekat dengan ibadah baik siang dan malam, merasa tertarik dengan khasiat kopi yang dapat memacu kekuatan. Baba Budan merencanakan untuk membawa beberapa bibit kopi saat pulang kembali ke India. Namun Baba Budan menyadari adanya larangan membawa biji kopi keluar wilayah Arab.

Baba Budan hanya membawa tujuh biji kopi segar yang baru saja dipetik. Tujuh biji kopi tersebut dimasukkan dalam lipatan bajunya di bagian perut agar tidak terdeteksi saat diperiksa. Alhasil, Baba Budan berhasil sampai di desanya dengan membawa tujuh biji kopi yang sudah direncanakan untuk ditanamnya.

Setibanya di India, Baba Budan tidak membuang waktu untuk segera menanam tujuh biji kopi yang dibawanya dari Arab. Tujuh biji kopi itu ditanamnya di sebuah perbukitan di wilayah desanya di Katarnaka, India. Saat ini, perbukitan tersebut diberi nama Baba Budan Hills oleh Pemerintah India sebagai penghormatan kepada Baba Budan.

Dari tujuh biji kopi yang ditanam, berangsur berkembang menjadi perkebunan kopi dengan ratusan hingga ribuan pohon kopi di dalamnya. Kopi berangsur menjadi konsumsi rutin masyarakat India yang notabene merupakan masyarakat pekerja dan membutuhkan suplemen kekuatan. Munculnya kedai-kedai kopi di beberapa wilayah di India menunjukkan bahwa kopi telah menjadi komoditi di India, berkat keberanian Baba Budan membawa biji kopi dari Arab dan menanamnya di India.

KOPI MENDUNIA

Eropa yang awalnya meng-“haram” kan kopi, akhirnya ber-“damai” dengan kopi dan justru mengembangkannya. Di-“haram” kannya kopi oleh sebagian besar masyarakat Eropa disebabkan kekhawatiran para Raja-Raja di beberapa wilayah Eropa melihat banyaknya kumpulan masyarakat yang berkumpul di kedai-kedai kopi. Berkumpulnya masyarakat di beberapa tempat sambil mengobrol merupakan potensi terjadinya pembicaraan-pembicaraan ke arah politik yang bisa mengancam pemerintahan.

Di sisi lain, beberapa pegiat perdagangan di Eropa melihat potensi keuntungan dari komoditi ini. Beberapa pedagang berniat mengembangkan tanaman ini di beberapa wilayah. Salah satu tujuan misi kopi tersebut adalah Jawa yang bertanah subur dan memiliki banyak lahan kosong untuk ditanami kopi.

Diperkirakan, misi dagang VOC yang masuk ke Jawa pada sekitar tahun 1696 turut membawa bibit kopi jenis Arabika ke Batavia. Dari bibit kopi Arabika yang ditanam di Batavia inilah yang kemudian menyebar hingga ke seluruh Jawa.

Bahkan disebutkan dalam “The Road to Java Coffee”, bahwa lelang harga kopi termahal di Amsterdam pada masa itu berasal dari Jawa. Kopi kiriman Bupati Cianjur Wiria Tanu sebanyak empat kwintal ke Amsterdam itu telah memecahkan rekor harga tertinggi kopi di sana. Mulai saat itulah Kopi Jawa menjadi primadona, yang menjadikan kopi-kopi Arabika yang ditanam di Jawa menjadi komoditas kopi dengan hasil terbaik.

Dalam catatan Bisnis Mangkunegara juga menempatkan Kopi dan Gula sebagai komoditas utama bisnis Kerajaan. Para Mangkunegaran secara turun temurun mengelola perkebunan kopi di seluruh wilayah Mangkunegaran di Jawa sebagai komoditas penopang bisnis Kerajaan Mangkunegara.

Selain di Jawa, para misi dagang VOC juga memperluas area penanaman kopinya hingga Sumatera dan Sulawesi. Tahun 1888 perluasan penanaman Kopi merambah daerah Sumatera Utara di sekitar Danau Toba. Kemudian sekitar tahun 1775 merambah wilayah Sulawesi dan menyusul wilayah Aceh Gayo pada tahun 1924.

Pasar Kopi Eropa pernah kewalahan menerima kiriman Kopi Arabika asal Jawa yang mencapai 2.145 Ton di tahun 1726. Hal tersebut mendapatkan perhatian Raja Louis XIV yang meminta kepada Walikota Amsterdam saat itu untuk untuk mencarikan benih kopi Arabika asli jenis Typica untuk ditanam di Perancis dan Negara jajahan Perancis lainnya. Walikota Amsterdam Nicholas Witsen akhirnya mengambil bibit-bibit kopi Arabika dari Batavia yang ditanam di daerah bantaran Sungai Ciliwung dan Jatinegara kala itu.

Perkembangan pesat penanaman kopi di tangan orang-orang Eropa inilah yang menjadikan kopi menjadi komoditas beberapa negara hingga saat ini. Perkembangan komoditi “si hitam pahit” ini tidak lepas dari seorang “sufi” bernama Baba Budan yang dengan keberaniannya membawa keluar benih kopi dari Arab untuk ditanam di India. Dari India melalui Sri Lanka, kopi-kopi hasil semaian benih Baba Budan akhirnya masuk ke Jawa melalui misi dagang VOC hingga akhirnya dikenal luas di Negara-Negara Eropa.

Jika dahulu para Raja Mangkunegara dan para Raja-Raja Eropa menjadikan Kopi sebagai komoditi penopang ekonomi Negaranya, maka seharusnya Indonesia khususnya Jawa sebagai sejarah kopi terbaik di Eropa di era Abad 16 hingga 17 seharusnya mampu menjadikan Kopi sebagai komoditas penopang ekonomi.

Kami sebagai petani dan pegiat kopi, khususnya kopi Arabika jenis Typica yang merupakan varian asli kopi Arabika akan dan sedang memulai mengulang sukses “kisah kopi Jawa” di Tanah Air. Selain melanjutkan perjuangan “sufi” Baba Budan di India, kami berharap agar kopi tidak hanya menjadi sebuah komoditas ekonomi semata, namun dapat menjadi pemicu semangat kaum muda untuk kembali melihat lingkungan sekitar. Bahwa banyak lahan yang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik dan membutuhkan tenaga muda yang masih penuh semangat dan gairah.

Baba Budan telah memulainya, bangsa Eropa mengembangkannya dan para petani kita mengerjakannya dengan baik hingga kopi menjadi sangat terkenal saat ini. Dari “Sehitam Jelaga dengan Rasa Yang Aneh”, Kopi merupakan keabadian sebuah kekayaan alam yang tak akan pernah mati.

Terimakasih Baba Budan, upayamu kami lanjutkan. Sebagai kekuatan kami melestarikan alam yang sekaligus menguatkan kami dalam menopang ekonomi.

Salam Petani Kopi Indonesia !

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here