Mari Merantau Kawan!

0
111
Merantau ke Amerika

Prolog

Control room yang sejatinya tidak begitu besar ini sesak oleh orang yang sedang harap-harap cemas. Mata mereka terpaku pada layar monitor, menanti satu titik cahaya berpendar. Titik yang hanya sebesar jarum itu adalah berkas elektron berenergi tinggi (sekian Milyar electron volt) yang dipercepat melalui terowongan sepanjang 20 km. Berkas elektron ini adalah pisau bedah yang akan kami gunakan untuk membelah inti atom.

Saya menghela napas, dan tiba-tiba menjadi melankolis. Ada perasaan haru saat bayang2 masa kecil menyeruak. “Alhamdulillah, saya yang lahir dan besar di kota kecil bernama Purwokerto akhirnya berkesempatan menjadi bagian dari salah satu pusat penelitian Nuklir di Amerika.”

******

Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan cita cita masa kecil saya. Dulu saya hanya ingin jadi PNS, dan tidak ada pula yang spesial dengan alasan kenapa saya ingin jadi PNS. Di desa dan kota kecil seperti Purwokerto, PNS adalah profesi idaman dan terhormat, jadi saya tidak beranjak dari niatan mulia untuk mengabdi pada negara atau sejenisnya.

Pun demikian dengan keseharian saya di sekolah dulu. Saya tak lebih dari anak sekolah baik-baik yang selalu berusaha menjadi juara kelas.

Kemudian ada satu titik perjumpaan yang sangat saya syukuri, yakni perjumpaan dengan guru fisika SMA yang mengubah drastis mimpi saya. Bagi sebagian besar orang, beliau mungkin hanya sekedar guru kelas sekaligus Pembina olimpiade fisika. Namun bagi saya beliau adalah guru kehidupan. Beliaulah yang pertama membuka jalan hingga saya berani bermimpi.

Di sela-sela cerita beliau tentang babad tanah jawa, beliau berkisah tentang kampus terbaik bangsa di kota Bandung. Di antara kisah beliau tentang babad wali, beliau bercerita tentang nobel fisika dan sekolah PhD di Amerika. Hingga akhirnya saya memantapkan diri untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung dan berikhtiar untuk menempuh studi fisika hingga jenjang S3 di Amerika.

Merantau

Saya menghela napas, dan tiba-tiba menjadi melankolis. Ada perasaan haru saat berdiri di tepi sungai Missisippi, memandang patung liberty, atau berjalan di jembatan Broklyn, New York. Saya mengenal tempat-tempat itu sejak kecil di sekolah, tak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya akan melihatnya langsung.

Tentu saja tak semudah membalikan telapak tangan untuk sampai di titik ini. Salah ‘dua, kekurangan saya adalah suka bertaruh dan bermulut besar. Namun beliau juga pernah bertutur bahwa kekurangan seseorang berdiri tepat dibalik kelebihannya. Tahun 2012 saya sudah bermulut besar dengan mengatakan ke kawan-kawan bahwa tahun depan saya akan ke Amerika. Padahal saat itu saya belum mengambil tes TOEFL, GRE dan syarat lainnya. Saya mempertaruhkan rasa malu sekiranya saya gagal ke Amerika. Alhamdulillah, untungnya metode ‘mulut besar’ lumayan ampuh bagi saya.

Kata orang sukses besar adalah kumpulan dari sukses kecil, perjalanan seribu mil dibangun dari langkah-langkah kecil. Persiapan TOEFL, GRE, Research essay, qualifying exam dll adalah langkah2 kecil yang mengantar saya sampai dititik ini, titik yang sangat saya syukuri. Betapa banyak pelajaran yang saya dapat dan hikmah yang saya temui. Saya bertemu orang dari berbagai negara hingga umat Islam dari berbagai Madzab.

Jika diringkas, hikmah terbesar yang saya temui adalah betapa saya bersyukur menjadi orang Islam dan orang Indonesia. Betapa Ke-Islaman dan ke-Indonesiaan adalah dua anugerah luar biasa.

Mengapa? Sayangnya terlalu panjang jika saya ceritakan semua disini. Saya lebih memilih untuk menyitir syair dari Imam syafi’i tentang merantau

Merantau

Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..
Merantaulah..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang..
Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan..
Jika mengalir, ia kan jernih..
Jika diam, ia kan keruh menggenang..
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran..
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam..
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang..
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah..
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan..
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai..
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..

Mari kita merantau kawan !

Tallahassee, 24 januari 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here