Mata Arit

0
124

Crassss…begitulah bunyi kerja mata arit penderes saat memotong rapi ikatan bunga kelapa. Tanpa ketajaman mata arit itulah, mustahil seorang penderes bisa bekerja dengan baik menyadap nira. Mengasah arit adalah ritual wajib penderes yang rajin sebelum berangkat memanjat pohon kelapa.

Tak terkecuali bagi Sutar. Ritual mengasah mata arit itupun dilaksanakan pagi itu. Bermodalkan batu wungkal dan setempurung air, pagi itu Sutar mengasah mata arit yang lengkung dan mengkilat tajam itu. Namun pagi itu seperti bagi yang berbeda bagi Sutar. Pagi itu tangan Sutar terlalu bertenaga menggosokan pipih logam lengkung ke batu wungkal itu.

Crasss…ujung telunjuk kiri Sutar tak terasa terkena sisi tajam mata arit yang diasahnya. Seketika darah mengepul. Sutar terhenti. Tatapnya tajam. Ia langsung bangkit. Matanya menyapu pandang sekeliling belakang rumah. Kucuran darah telunjuk kiri tak dipedulikan. Kemudian dengan cepat ia segera mengayunkan aritnya.

Crasss….Sepotong tunas pohon pisang kecil telah terpotong. Dengan cepat, potongan tunas pisang itu langsung ia tempelkan ke luka telunjuk yang mengucur darah. Sutar meringis. Kemudian dengan cepat ia gigit kain, celana komprang yang ia pakai. Sobekan celana itulah yang kemudian dijadikan penutup sekaligus pengikat luka telunjuk kirinya.

Seperti tak pernah terjadi sesuatu, Sutar kemudian langsung memasukkan arit tajamnya di sabuk bekas pinggang kirinya. Kemudian ia langsung menyambar sepikulan pongkor kosong dan berjalan menuju ke kebun tempat pepohonan kelapa yang disadapnya. Pagi itu ia lebih berjalan lebih bergegas dari biasanya. Ya, ada yang membuatnya bergegas. Ya, ada yang membuatnya tergesa mengasah mata aritnya. Tepatnya ada yang membuatnya pikiran dan hatinya tak tenang.

#

“Kang, aku ikut berangkat ke Malaysia ya Kang,” kata Ratmi, mengejutkan Sutar pagi itu.

Ya, pernyataan itu akhirnya keluar juga dari mulut perempuan yang dinikahinya usai lulus sekolah dasar. Perempuan yang telah menjadi ibu dari dua anaknya itu akhirnya mengeluarkan kata yang benar-benar tak diharapkannya. Menjadi tenaga kerja di luar negeri. Begitulah sesuatu yang benar-benar ingin ditolak Sutar untuk istrinya itu.

“Kang….” Ratmi mengulangi sambil menatap suaminya yang sibuk memasukkan laru air rendaman kapur dan kulit manggis ke dalam pongkor-pongkor kosong. Mulutnya bungkam dan seakan tak mendengar ucapan isterinya.

Ya, demikianlah hingga empat puluh pongkor itu telah diisi laru selesai, Sutar tetap diam. Ia kemudian dengan cepat menyatukan tali-tali pongkor hingga menjadi dua ikatan dan dikaitkan ke pikulan bambu. Dari dalam dapur tempat nira dimasak, ia kemudian keluar memikul pongkor menuju ke belakang rumah untuk mengasah aritnya.

#

Plung plung plung plung…Bunyi suara pongkor-pongkor bambu dalam pikulan Sutar terdengar. Rupanya langkah Sutar terlalu bergegas, hingga pongkor-pongkor itu saling bertubrukan meski telah disatukan dalam satu ikatan dalam di dua ujung pikulan tersebut. Beberapa kali kaki Sutar sempat terpeleset, namun ia masih bisa menjaga keseimbangannya. Tubuhnya yang kecil, namun terlihat kencang, hitam mengkilat dan liat. Ya, tubuh itu adalah tubuh umumnya para penderes Dukuh Gandasari.

“Kang Sutar, ada apa gerangan, kenapa begitu pagi berangkat menyadap?” kata Tarsun, yang baru saja pulang membuang hajat di sungai kecil di bawah kebun kelapa.

Sutar hanya terdiam dan terus bergegas berjalan. Sapaan dan pertanyaan Tarsun seakan angin lalu. Tarsun yang melihat gelagat itu hanya terdiam dan meneruskan perjalanannya pulang. Ia memahami perihal saudara sepupunya yang kelihatan sedang memendam amarah.

Sutar terus saja berjalan hingga kemudian sampai di perkebunan kelapa tempat ia bisa menyadap nira. Ia menurunkan pikulan pongkornya yang masih kosong dengan keras. Ya tak seperti biasa. Lelaki itu kemudian, dengan cepat melukar rangkaian tali pongkor yang terkait ke pikulan. Empat pongkor telah ia kaitkan ke kawat melengkung di bagian belakang. Iapun memanjat pohon kelapa itu satu persatu.

Di tengah perjalanannya memanjat pohon kelapa, sesekali ia terdiam. Pandangnya kosong. Pemandangan sepasang burung sikatan yang saling mengejar di antara pelepah daun salak sepet di sungai kecil bawah pohon kelapa yang dipanjatnya tak dihiraukan. Yang terngiang hanyalah perkataan istrinya. Perkataan itu adalah permintaan sang istri. Permohonan ijin istri kepada suami untuk merantau ke negeri orang.

#

“Istri kalau sudah ingin bekerja di luar berarti ia sudah tak bisa menerima hasil dari si suami. Istri itu wajibnya taat kepada suami. ‘Suwerga manut, neraka katut’. Suka duka, lebih kurang harus diterima dan bersedia mendampingi suami,” kata Marsudi, yang tak lain adalah paman Sutar suatu sore.

Ya, kalau perempuan sudah tak mau bersama suami, maka apa artinya ia sebagai istri. Namun bagi Sutar, pandangan Marsudi adalah pandangan lama. Namun ia tak mungkin menolak apa yang dikatakan Marsudi sebagai orang yang dituakan di dukuh itu.

Maka diam-diam, Sutar hanya berpikir. Ia menyalahkan diri sendiri sebagai suami. Pekerjaannya menyadap nira tentulah tak bisa lagi untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Terlebih lagi Si Kusno anak sulungnya sudah mulai bersekolah SMP di kota kecamatan. Setiap hari butuh uang saku dan uang bayaran sekolah lainnya.

“Kalau sekadar untuk makan sehari-hari, yang penting bisa makan nasi dan ikan asin mungkin cukup. Tapi kalau sudah harus untuk yang lain, hasil ‘indel’ masak gula ini tentulah tidak cukup Biyung,” perkataan Ratmi kepada ibunya Sawen yang tak lain mertua Sutar yang tiga hari lalu mampir ke rumah Sutar.

Sutar tak bisa menampik apa yang terjadi di sekitarnya. Kebutuhan anak sekolah saat ini memang semakin tinggi. Sementara harga gula kelapa yang dihasilkannya cenderung tetap. Meski semakin hari semakin banyak penderes yang pensiun, namun tak pernah ada kabar baik tentang harga gula dari tengkulak.

Sempat Sutar berhenti menyadap nira untuk beberapa waktu lalu. Ia mencoba pergi ke Jakarta mengadu nasib. Sebagaimana tetangganya Karmin, iapun mencoba menjadi tukang abu. Ya, warga setempat mengatakan tukang abu, padahal pekerjaan sebenarnya adalah menjadi tukang rongsok di ibu kota. Namun nasib Sutar tak seberuntung Karmin yang tiap kali pulang ia membawa uang banyak dan barang bekas elektronik yang masih bisa dipakai dan dijual ke tetangga. Maka Sutar hanya dua bulan ke Jakarta dan akhirnya kembali lagi ke desa menjadi penderes.

“Canting jali. Begitulah rejekiku Kang. Meskipun air seluas samudra, jatahku hanya sepucuk canting saja. Cukup untuk sesuap nasi dan seseruput air,” kata Sutar kepada Karmin. Ia menertawakan nasibnya sendiri.

#

Istrinya memang tak pernah banyak bicara. Namun justru dengan berhemat kata, sebenarnya ia menyimpan banyak keresahan. Maka kekhawatiran dan ramalan Sutar bahwa sang istri akan pergi suatu saat terus menerus menghantui. Pagi itu adalah pagi di mana segala hal yang dikhawatirkan Sutar benar-benar terjadi.

Dua puluh pohon kelapa telah dinaiki Sutar pagi itu. Empat puluh pongkor kosong telah dinaikan dan ditinggal untuk menjadi wadah tetesan nira dari manggar. Empat puluh pongkor lainnya berisi nira telah diturunkan untuk dipikul dan dibawa pulang untuk dimasak Ratmi di rumah.

Pagi itu, empat puluh pongkor itu berisi nira penuh. Ya tak seperti biasanya. Padahal di musim ketiga ini, banyak pohon kelapa yang terlambat mengeluarkan manggar. Penuhnya pongkor itu seakan tak dipedulikan Sutar. Luka kecil di telunjuknya yang tadi tak dipedulikan justru kini semakin dirasakan. Nyeri. Sayatan mata arit itu sungguh membuat telunjuk itu nyeri.

Setengah jam perjalanan akhirnya Sutar sampai di depan rumahnya. Bilik dapur memasak nira itu sudah terbuka. Sang istri terlihat sedang menjemur daun kelapa kering dan irisan-irisan pelepah pohon kelapa sebagai kayu bakar. Ia bergegas masuk dan meletakkan sepikul pongkor-pongkor kelapa berisi nira kelapa itu.

Ratmi masuk dan mulai mengambil pongkor demi pongkor. Nira dari pongkor itu langsung dituangnya ke dalam wajan besar untuk dimasak. Ya, tak ada pembicaraan di antara suami istri itu. Sutar duduk di atas lincak bambu dan menuang air dari kendi tanah ke dalam gelas cangkir besar. Ya, dapur itu sengak aroma keringat penderes, nira kelapa dan sangit asap pertanda api mulai menyala.

“Kang, bagaimana kalau aku jadi pergi ke Malaysia?” kata Ratmi sambil menyorongkan kayu bakar ke mulut tungku yang mulai menyala.

Sutar terdiam. Hanya kepulan asap rokok lintingan yang keluar dari mulutnya. Ia menghela nafas panjang dan memandang istrinya yang berada di depannya. Terlihat jelas di matanya, tubuh istrinya menggairahkan. Ya usia perempuan yang menjadi ibu dari dua anaknya itu hampir menginjak kepala tiga. Namun setelah belasan tahun berkeluarga, pagi itu benar-benar ia melihat keberanian seorang perempuan yang terdesak ekonomi.

Sebelum ia menjawab pertanyaan sang istri, Sutar melihat sesosok pria berjalan dari jalan setapak menuju rumahnya. Ia sangat kenal dengan sosok pria yang berjalan dengan cengangas cengenges itu. Jikin. Makelar TKI dari desa sebelah yang beberapa kali mencuri waktu datang menemui istrinya.

Kepulan asap rokok lintingan Sutar terus mengepul. Sambil memandang sosok Jikin yang terus mendekati rumahnya, Sutar semakin cepat menghisap rokok lintingannya. Istrinya yang sedari tadi di depan tungku hanya bisa memandangnya.

Semakin dekat semakin terlihat jelas Jikin sebagai sosok lelaki bercelana jins, berkemeja kotak dipilin. Lelaki berkalung emas itu semakin mendekat menuju bilik dapur Sutar dan Ratmi berada. Ketika Jikin hampir tiba di depan bilik, Jikin tersenyum. Semakin Jikin tersenyum, mata Sutar semakin menyala.

“Lelaki tak ada gunanya. Salahnya kamu miskin, tak pandai mencari nafkah. Maka istrimu harus ke luar negeri,” begitulah yang terngiang di telinga Sutar saat melihat Jikin berlenggang menuju biliknya.

Seperti kesetanan, Sutarpun bangkit dari lincak bambu. Dengan bergegas ia menuju pintu. Sebelum keluar pintu, tangan kanannya meraih arit yang belum lama ia selipkan di dinding bambu itu. Ia berlari cepat keluar. Melihat itu Jikin berusaha lari. Namun….

Crasss….Crasss….Crasss….. Crassss….Crasss…
Ya itu adalah suara mata arit bekerja. Namun suara itu disertai suara jerit Ratmi. Sutar kalap melukai Jikin yang menghampirinya. Jikin berlari, Sutar mengejar dan menyabetkan aritnya. Ya, kemeja kotak-kotak Jikin berlumuran darah. Warga yang mendengar teriakan minta tolong langsung berhambur keluar.

“Eling Sutar, eling Sutar….” kata tetangga.
Sutar kelebon setan, Sutar ketempelan setan….
Setelah melihat Jikin berlumuran darah dan jatuh terjerembab. Mata Sutar meredup. Yang muncul kini hanya teriakan disertai tangisnya. Tangis lelaki penderes yang sebelumnya tak pernah menangis. Mata arit yang dia pedang telah mengkilat merah oleh darah.

#

Kang, aku tetap akan pergi ke luar negeri…
Begitulah kata Ratmi yang didengar oleh Sutar pagi itu. Pagi itu, ia tak lagi melihat burung sikatan yang saling berkejaran dan melompat di pohon salak. Yang dipegannya kini adalah dingin jeruji besi.
Di matanya, ia kini melihat Ratmi menjinjing tas besar. Perempuan desa yang dinikahinya belasan tahun lalu itu sedang antre menuju kapal.
“Kang, aku tetap pergi ke Malaysia,”
Begitulah kata Ratmi kemarin pagi usai menjenguk terakhir kali.

Pekuncen, 26 April 2019

#Cerpen ini pernah di muat di rubrik Minggu Bendrong Kulon, Harian Radar Banyumas 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here