Matinya Warto Jabrig

1
214

Nguing nguing nguing… bunyi sirene mobil polisi terus menyalak meski mobil telah berhenti. Dua laki-laki berseragam polisi turun dari mobil dan menghampiri kerumunan. Satu diantara mereka mengangkat mayat yang tergeletak di bangku panjang dibantu oleh beberapa orang yang tadinya hanya menonton. Laki-laki berseragam polisi yang lain menginterogasi orang-orang, mencari informasi. Tidak jauh dari kerumunan, ibu-ibu yang awalnya terus menjerit ketakutan kini tampak sudah mulai tenang.

Saya tidak tahu persis mereka disana berbicara apa. Entah itu interogasi pria berseragam polisi kepada warga atau bujukan ibu -ibu kepada temannya yang menjerit ketakutan. Saya berjarak sekitar seratus meter dari mereka, berdiri di balkon lantai tiga sebuah gudang toko matrial dan besi tempat saya menginap dan bekerja. Saya hanya bisa merasakan kepanikan, kecemasan, ketakutan dan keheranan mereka. 

Pagi-pagi buta, saat kabut belum sempurna hilang. Di kios rokok pinggir jalan kecamatan, seorang pria yang mereka sangka tertidur karena terlalu mabuk ternyata sudah menjadi mayat. Wajah dan badannya penuh darah, keningnya berlubang sebesar ujung jari kelingking.

***

“Darmi yang pertama kali lihat. Dia ke warung mau beli supermi buat sarapan anaknya.”

“Ooh..”

“Nah, sambil nunggu Isah buka pintu warung, Darmi panggil-panggil Warto. Tapi nggak sampe mendekat apalagi goyang-goyangin badan Warto.” 

“Trus…”

“Nah, begitu Darmi pulang, Isah keluar. Baru itu Isah ngomel-ngomel bangunin Warto yang disangkanya mabok sampe goyang-goyangin badan si Warto. Lha wong dia nggak tau Warto sudah jadi mayat. Begitu dia nyetel lampu, njerit dia. Dia liat itu si Warto muka sama badannya penuh sama darah.”

Percakapan Enci dengan pembeli terdengar jelas oleh saya yang sedang menaikkan besi pesanan ke atas mobil bak. Enci saya meskipun tidak melihat langsung kejadian tersebut, terlihat sangat mengerti. Pembeli yang berjumlah tiga orang itu pun manggut-manggut seperti mendapatkan informasi terpercaya dari kesimpangsiuran berita yang sebelumnya mereka dengar.. 

“Lha kok bisa Warto itu ditembak itu gimana ceritanya Ci?” tanya salah seorang pembeli berkopiah putih.

“Besok juga keluar di koran Pak Haji. Panjenengan bisa baca itu, lengkap.” pembeli lain menimpali.

“Alah, mana mungkin koran cerita sampai dalem-dalem. Paling cuma ngomong ada pembunuhan di sini, nama korbannya si ini, ditemukan jam segini. Udah itu doang paling.” kata pembeli yang lain.

“Bener tuh.” Enci menjawab.

“Mana mungkin koran ngomong kalo Warto ditembak gara-gara selingkuh sama Istri polisi” sambung Enci.

“Emang bener begitu Ci?”.

“Apaan sih mah, nggak usah ngomongin berita nggak jelas. Salah-salah kita lagi jadi sasaran.” Kokoh saya langsung memotong supaya Enci tidak terus nyerocos. Enci menurut. Telunjuk tangannya ia tempelkan di mulut sambil pandangannya diarahkan kepada pendengar-pendengarnya.

Dan ternyata omongan Enci saya benar adanya. Hingga seminggu setelah kejadian, koran tidak pernah menceritakan apa yang membuat Warto menjadi mayat, apalagi menjelaskan kenapa. Koran hanya ngomong ada seorang warga Desa Randu Kecamatan Banjarasri bernama Warto alias Jabrig (55 tahun) yang ditemukan meninggal di sebuah kios rokok milik Isah (36 tahun). Petugas yang berwenang sedang melakukan penyelidikan atas meninggalnya Warto. Sudah, itu saja. Koran bahkan tidak sekalipun ngomong ada lobang sebesar ujung jari kelingking di kening Warto. Pengetahuan tentang itu hanya didapat dari omongan-omongan orang. Merembet dari mulut Isah, Darmi, dan beberapa orang yang melihat langsung kejadian tersebut ke kuping orang lalu menyebar dari mulut-kuping-mulut, hingga ke kuping Enci, dan kemudian saya. 

Orang-orang di daerah kami tidak berhenti membicarakan matinya Warto karena Warto Jabrig memang cukup dikenal. Ia adalah seorang preman sejak mudanya. Ia mabuk-mabukkan hampir tiap malam. Bersama kawannya ataupun sendiri. Beberapa orang diam-diam bersyukur atas kematiannya. Mereka merasa Warto Jabrig adalah sampah masyarakat yang membuat risih. Akan tetapi tidak sedikit pula yang mengenang Warto Jabrig sebagai preman yang baik hati. Warto tidak sungkan menolong membetulkan genteng bocor, mengantarkan anak tetangganya sekolah, mengangkat jemuran di rumah orang entah siapa saat mau hujan. Warto Jabrig selalu memberikan banyak uang untuk resepsi tujuh belasan atau acara perayaan lain yang ada dangdutannya. Uangnya darimana, tidak banyak orang tahu. Entah itu nyolong, nodong, atau apa. Warto Jabrig juga senang memberikan jajanan bahkan mainan kepada setiap anak-anak yang ditemuinya, termasuk kepada adik-adik saya.

Selain karena Warto cukup terkenal, kematiannnya yang ditembak adalah sebuah kejadian yang luar biasa. Baru pernah ada di daerah kami seorang mati karena ditembak. Daerah kami hanyalah kecamatan kecil yang berjarak 50 kilometer dari kota kabupaten. Orang satu kecamatan ini ditanya apa pernah mereka lihat pistol, tentu mereka akan geleng kepala. Lha kok ini ada orang mati ditembak, Warto Jabrig pula. Simpang siur tentang penyebab kematiannya terus mengisi perbincangan di daerah kami. Di poskamling, di warung, di pasar, di halaman sekolah TK, di Balai Desa. Semua penasaran.

“Memang katanya Warto itu gendakan sama istri polisi. Polisi itu tugas di Palembang dan jarang pulang.”

“Berarti yang nembak suaminya? Si Pak Polisi itu?” 

“Ya nggak tau. Ada yang ngomong sodaranya yang dinas jadi PM. Mbuh lah.”

“Ada juga yang ngomong Warto ditembak gara-gara dia jadi kepala keamanan Pabrik Semen.”

“Apa hubungannya?”

“Ya nggak tau. Rebutan jatah preman kali.”

“Ah Warto nggak bakal ngotot begitu. Kalo dia masih muda mungkin iya, dia bakal ngotot-ngototan.”

“Bukan begitu ceritanya, Warto itu jadi satu-satu orang sini yang tahu kalo pabrik semen itu ternyata bukan pabrik semen. Dia lihat langsung. Dirman yang cerita. Dia nggak sengaja denger pas Warto cerita ke temen-temenya waktu lagi mabok.”

“Jadi itu bener kang?” 

“Maksudnya gimana kang?”

Dua orang berebut menimpali. Yang ditanya serta merta menurunkan volume suaranya, hingga hampir berbisik

“Iya. Tapi jangan berisik, kalo nggak mau nyusul Warto. Itu pabrik, sebenarnya bukan pabrik semen tapi pabrik emas, kita semua disini dibohongin.”

“Waduh, jadi itu pabrik emas kang?!!”

“Husssyyyy!!!”

“Ndul!! sini sebentar.” Suara Kokoh memanggil saya dari kejauhan. Memaksa saya menghentikan aktivitas menguping pembicaraan senior-senior saya di gudang toko besi dan material ini. Setengah berlari saya menghampiri kokoh yang duduk di belakang meja.

“Nanti malam ada barang dateng. Kamu siap-siap. Kuli bongkar dari sana, kamu nggak usah ikut bongkar.”

“Iya Koh.”

“Inget ya, gak usah ikut bongkar.”

“Iya koh–itu saja koh?”

“Iya udah sana”.

Saya buru-buru kembali ke posisi saya. Berharap tidak ketinggalan pembicaraan. Mereka semua berbicara dengan berbisik, memaksa saya memicingkan mata dan berusaha lebih keras untuk bisa mendengar kalimat yang keluar dari mulut mereka. Saya musti mencari posisi yang lebih pas untuk bisa melihat gerak mulut mereka.

“Nah, orang-orang yang tanahnya belum mau dibeli itu bisa minta harga tinggi kalo sampe tahu di tanahnya ada emasnya.”

“Masa Pak lurah apa pak camat nggak tahu kang. Kan bikin pabrik ada ijinnya.”

“Owalah Kapeeng….Kapeng. Pekok banget kamu. Jangankan lurah atau camat, bupati aja bisa dikadalin.”

“Lha gubernur? Presiden??”

“Nih Peng, emas satu gram berapa?”

“Mana saya tahu. Saya seumur-umur belum pernah beli emas.”

“Owalah, gemblung pancen.”

“Jawab dulu itu pertanyaan saya kang. Gubernur apa presiden gimana?”

“Nih Peng, emas satu gram 400 ribu. Kalo emasnya 10 ton, negaramu bisa dibeli peng.”

***

Seluruh kata-kata yang keluar dari mulut senior-senior saya itu terekam dengan baik di kepala saya. Satu pernyataan yang paling terngiang ; Warto Jabrig adalah satu-satunya orang sini yang tahu, melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa pabrik semen itu adalah pabrik emas. 

Hadirnya pabrik semen di daerah kami memang menjadi pembicaraan hangat sebelum digantikan oleh kejadian matinya Warto Jabrig. Pak Camat didampingi Pak lurah dan perangkat desa, orang-orang berseragam doreng tentara dan doreng yang lain juga orang-orang berseragam polisi datang ke balai desa-balai desa. Perwakilan warga dan tokoh masyarakat diminta berkumpul untuk mendengarkan sosialisasi.

“Jadi nanti disini akan dibangun pabrik semen. Ini program dari pemerintah pusat. Kita harus bersyukur dan bangga daerah kita terpilih dari sekian ratus bahkan sekian ribu titik daerah yang disurvey. Ini pabrik kalo sudah berdiri akan meyerap ribuan tenaga kerja. Jadi nanti bapak-bapak, Ibu-ibu yang anaknya masih menganggur atau sekarang sudah kelas 3 STM bisa masuk kerja di sana. Gajinya gede, lha wong namanya pabrik semen.”

Kurang lebih begitu sosialisasi yang diberikan di setiap balai desa. Mereka juga meminta masyarakat pemilik tanah bukit dan sekitarnya yang nanti akan dipilih untuk bisa mengikhlaskan tanahnya untuk dibeli sama pihak pabrik. Itu semua demi untuk melancarkan program pembangunan dari pusat dan juga demi membuka lowongan kerja bagi anak-anak muda pengangguran, agar lebih sejahtera dan maju.

Tidak beberapa lama sejak sosialisasi itu, masyarakat diramaikan dengan berita si A mendapat kompensasi pembelian tanah tiga kali lipat dari harga umum, Si B kaya mendadak gara-gara tanah bukitnya yang wingit–warisan dari orang tuanya dibeli seluruhnya oleh pabrik. Dan seterusnya. Banyak orang kaya mendadak. Ada pula cerita orang-orang pemilik tanah yang tidak mau tanahnya dibeli, diteror oleh orang-orang tidak dikenal. Warga yang tanahnya tidak boleh dibeli jumlahnya ternyata tidak sedikit. Mereka–entah dikoordinir oleh siapa–berkelompok dan kompak menolak tanah mereka dibeli. Alasan mereka bermacam-macam. Ada yang menolak karena wasiyat orang tuanya, ada yang menolak karena itu satu-satunya harta mereka, tempat mereka memperoleh penghasilan, dan sekian banyak alasan lainnya. Alasan yang juga terdengar adalah mereka takut ketika tanah bukit mereka digali untuk diambil semennya, maka rumah dan pemukiman akan terkena longsor.

Penolakan itu tidak menghentikan pembangunan pabrik semen. Di tanah warga yang sudah mereka beli dengan sukarela maupun terpaksa, pabrik berdiri megah. Pak Bupati menggunting pita menandakan pabrik semen resmi beroperasi. 

Warto Jabrig sebagai preman senior dan paling berpengaruh diminta oleh pak camat langsung untuk menjadi kepala keamanan pabrik.

“Saya itu nggak punya ijasah pak. Masa saya kerja disana.”

“Kerja jadi kepala keamanan itu nggak perlu ijasah. Cukup ditakuti sama orang-orang, dihormati sama orang-orang, berani berantem kalo ada yang ganggu aktivitas pabrik. Udah itu aja.”

“Ah, saya nanti kalo kerja di pabrik malah jadi nggak bebas. Jangan saya pak, yang lain aja.”

“Saya ngerti maksud sampeyan. Tenang saja, sampeyan masih boleh minum ciu sampe mabuk, tiap malem. Yang penting pabrik aman. Sampeyan kan kepala, ada anak buah yang bisa sampeyan suruh-suruh.”

“Aduh, gimana ya Pak.”

“Sudah, mau saja. Ini demi kebaikan kamu, sama keluarga kamu. Istrimu, anak-anak-mu, Mbokmu.” Pak camat menatap tajam wajah Warto sambil tersenyum. Senyum yang hanya Warto yang bisa mengartikannya. 

***

Berbulan-bulan saya mendengar obrolan tentang kematian Warto Jabrig. Tidak saya sengaja maupun sengaja. Beberapa orang meyakini bahwa Warto dibunuh karena ia nggendak istri polisi, polisinya cemburu lalu menyuruh orang untuk membunuh. Meskipun itu tampak ganjil, tapi kebanyakan masyarakat menganggapnya seperti itu. Hanya sedikit orang yang menganggap matinya Warto Jabrig karena ada hubungannya dengan jabatannya sebagai kepala keamanan di pabrik semen. Apalagi sampai dihubungkan dengan cerita bahwa Warto adalah satu-satunya orang lokal yang melihat kenyataan bahwa pabrik semen itu senyatanya adalah pabrik pengolahan emas. Mereka yang meyakini cerita yang kedua biasanya akan melengkapinya dengan cerita legenda lokal yang menyebut bahwa daerah sekitar pabrik adalah daerah yang kaya emas.

***

Telah lima bulan sejak ditembaknya Warto Jabrig. Pihak yang berwajib menyatakan mereka sulit melacak pembunuh Warto karena TKP yang sudah rusak, hingga mereka tidak menemukan jejak meskipun secuil. Orang-orang daerah kami juga sudah tidak sehangat dulu membicarakan kejadian itu. Digantikan oleh berita-berita besar dari ibukota yang terus muncul di televisi. 

Hanya satu dua orang yang masih menyimpan tanya. Bahkan teman-teman Warto Jabrig pun mengunci rapat perihal yang berhubungan dengan Warto Jabrig. Kepala keamanan telah diganti baru, mantan anak buah Warto Jabrig. Dia sesekali datang ke rumah janda Wanto, membawakan makanan dan uang sekadarnya. Teman-teman Warto terenyuh melihat keluarga Warto yang berantakan semenjak kematiannya. Istrinya stress, linglung setelah dihantam kejadian menyakitkan yang bertubi-tubi. Suaminya mati dan anak-anaknya minggat entah kemana tidak ada yang tahu.  Ia hanya diam melamun, sesekali menangis, sesekali tertawa, sesekali menggigit-gigit ujang kerah baju Warto yang selalu dipegangnya. 

Meskipun mereka iba, mereka hanya bisa menggeleng ketika ditanya mengenai Warto Jabrig. Pernah dulu ketika istri Warto masih belum linglung bertanya kepada teman-teman Warto–saban hari–dan jawabannya tetap sama, mereka tidak tahu. Ada pula yang hanya menangis dan tidak ngomong apa-apa kecuali ; maafkan saya, saya tidak tahu. 

***

Adzan subuh sudah lama selesai. Langit sudah tidak gelap lagi. Semburat merah sudah hampir hilang, berganti putih kekuningan yang menyilaukan. Saya masih menunggu mobil yang mengirim barang yang hingga pagi ini belum juga datang. Saya memandang ke arah warung rokok yang menjadi tempat kejadian ditemukannya mayat Warto Jabrig sang preman. Saya membayangkan kejadian itu, waktu demi waktu. Tidak hanya saat Darmi datang untuk membeli Supermi atau saat Isah menjerit saat mengetahui Warto sudah jadi mayat. Saya membayangkan apa yang terjadi sebelum kejadian itu. 

Warto Jabrig datang saat gelap, dengan dandanan khasnya–jaket kulit dan bluejeans kumal, bersepatu boots dan bertopi warna coklat.  Asap kreteknya mengepul deras dari mulut, sementara tangan kirinya memegang ciu dalam bungkus plastik lengkap dengan sedotan berwarna kuning. Ia berjalan gontai menuju warung Isah sambil bersenandung. Lampu jalanan di belakangnya membuatnya jadi siluet dan makin mengesankan suasana misterius dan mencekam. Truk tronton liwat di jalanan, membunyikan klakson. Warto Jabrig melambaikan tangan sambil terus berjalan. Ia kemudian duduk dan bersandar di bangku panjang warung milik Isah. Ia mengambil handphone di saku jaketnya, memutar lagu “Berita kepada Kawan”. Ia seruput pelan-pelan ciu dalam plastik, lalu menyedot kretek dan menghembuskan asapnya. 

Warto mulai menirukan suara penyanyi kesukaannya, mulanya pelan dan berangsur-angsur menjadi keras hingga mengalahkan audio ponselnya. Tidak beberapa lama, dari jauh terlihat motor ngebut dan kemudian berhenti di warung rokok milik Isah. Warto tidak beranjak saat pengendara motor yang masih mengenakan helmnya itu datang menghampiri. Pengendara motor itu mengambil senjata api genggam dari balik jaket dan menodongkannya tepat di kening Warto yang terus bernyanyi dan DORRR!!! Suara Warto terhenti.  Kemudian dengan pelan sekali Warto merebahkan diri, miring seperti layaknya orang tertidur. Kedua kakinya ditekuk. Tidak ada erangan kesakitan.

Saya telah ratusan kali membayangkan kejadian itu, sambil memandang warung rokok milik Isah dari balkon lantai tiga ini, sejak pertama kali bekerja disini. Saya sebenarnya bisa bekerja di tempat lain, tetapi saya tidak bisa mendapatkan situasi di balkon lantai tiga ini. Saya tidak mengerti kenapa saya senang melakukan itu dan bahkan menikmatinya. Warto Jabrig adalah orang yang tidak lagi saya temui sejak saya lulus SD dan merantau, hingga saya kini 25 tahun. Saya membencinya tapi juga menyayanginya. Dia jarang pulang, dan sekalinya pulang dia tidak tahan berlama-lama di rumah karena Ibu saya–istri sah Warto Jabrig selalu memarahinya. Ada saja bahan untuk memarahi bapak saya itu. Jarang pulang lah, gendakan sama janda lah, mabok-mabokan lah. Semua kalimat dan istilah yang hanya bisa saya rekam dan baru saya ketahui setelah saya besar.

Sesekali setelah saya duduk di balkon dan membayangkan membayangkan kejadian penembakan itu, dendam saya luntur. Tetapi sering pula dendam saya berkecamuk.  Ibu saya gila, adik-adik saya pergi entah kemana rimbanya. Membayar lunas derita keluarga saya sepertinya menjadi hal yang harus saya lakukan. Akan saya bunuh siapapun yang telah membuat Bapak saya mati. Saya bakar orangnya hidup-hidup dan akan saya tonton hingga jadi abu. Entah itu suami gendakan Bapak saya, orang suruhannya, preman musuh bapak saya atau mungkin camat, bupati atau direktur pabrik itu. Saya sudah tahu nama mereka semua, rumah dimana mereka tinggal, kebiasaan keseharian mereka. Semua telah saya catat, saya kumpulkan pelan-pelan dari obrolan orang-orang yang tidak berhenti memperbincangkan kematian bapak saya.

***

Bunyi klakson mengagetkan saya. Truk yang saya tunggu-tunggu sudah datang. 

Saya bukakan pintu gerbang dan saya melihat Kokoh saya juga datang, Ia turun dari mobilnya.

Truk berjalan masuk, dan saya mengikuti. Penumpang truk yang turun, terlihat berbicara dengan Kokoh saya di depan gerbang. Di depan gudang saya hendak membantu kuli untuk membuka terpal. Tapi Kokoh yang sudah berjalan mendekat melarang saya.

“Jangan Ndul. Nggak usah. Kamu tutup gerbang aja sana.”

Sebelum saya menuruti perintah Kokoh saya sempat bertanya kepada sopir

“Muatan apa memang ini Pak?”

“Air raksa.”

“Bukan. Sok tau aja lu orang tua.” Potong penumpang truk yang satunya. 

Kokoh saya yang kaget dan panik, memandang ke arah saya.

***

Saya Sugeng. Saya anak sulung Warto Jabrig yang beberapa bulan lalu ditembak oleh entah siapa, entah karena apa. Ibu saya gila dan adik-adik saya hilang entah kemana rimbanya. Dan saya bersumpah akan menuntut balas.

Pandansari, 10 April 2020

1 KOMENTAR

  1. Sprti apapun template seseorang pasti ada alasannya kenapa bisa mjd Warto Jabrig. Dan ga semua aapa yg di cover itu benar. Is it?
    Katanya butuh waktu yg lama buat ungkap kebenaran apalg soal sumpal menyumpal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here