Mekar Di Ujung Tombak

0
63

Tepat pukul dua pagi, Ellya terbangun saat ponselnya menyuarakan nada dering alarm yang ia setel sebelum tidur. Memang kedisiplinan itu harus dilatih dari kebiasaan. Jujur saja, Ellya belum terbiasa bangun sendiri pagi-pagi buta seperti ini. Oleh karena itu, Ellya harus punya strategi khusus untuk mengatasinya dengan memanfaatkan alarm ponselnya. Ellya segera keluar kamar pondok pesantren untuk mengambil air wudlu dan bersiap-siap ke aula santriwati.

Dinginnya malam cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Tetapi Ellya telah bertekad untuk melaksanakan mujahadah rutin yang diimami oleh bu Nyai Sa’adah bagi santriwati. Sementara di balik sana juga para santriwan melaksanakan hal yang sama yang diimami oleh Kyai Ma’shum. Begitulah rutinitas yang dilakukan oleh seluruh warga pondok pesantren (ponpes) Al Mumtaz setiap malam Jumat. Mujahadah itu biasanya dimulai  pukul dua pagi hingga menjelang subuh. Ellya yakin dan mantap untuk selalu berusaha mengikuti mujahadah karena Ellya selalu ingat dan sami’na waatha’na (apa dhawuh) pada Kyai. Salah satu syarat manfaatnya ilmu adalah taat kepada guru, taat dalam hal kebenaran tentunya.

Pagi yang sejuk dengan semburat kuning keemasan di ufuk timur menggiring keinginan Ellya untuk bangkit dari duduk manis di depan laptop kesayangannya untuk chattingan bersama teman lamanya ketika masih SMP dulu sebagai penjaga tali persahabatannya dengan Najmi. Ellya kini telah menjadi siswa ‘Aliyah kelas satu, jadi ia sadar dan harus mampu mengatur waktu dan mengatur dirinya sendiri menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang.

Ketika Ellya hendak turun ke lantai satu, terdengar ada suara yang memanggilnya, “ mba… mba yang berbaju merah…tunggu sebentar !”, Ellya pun berhenti karena ia yakin hanya dirinya yang berbaju merah saat itu, kemudian ia menoleh kepada sumber suara tadi.

“ Iya mba… ada yang bisa kubantu? ”

“Ooh enggak kok, cuma mau kenalan aja, kata orang itu,“ kalau tidak kenal, maka tak sayang, hehe.”

Keduanya tertawa sejenak. Ellya bisa maklum karena ia baru satu bulan masuk ponpes ini. Jadi wajar saja kalau masih banyak yang belum kenal. Kami pun berjabat tangan sambil saling bertukar nama.

“ Saya Zida, mba namanya siapa? ” dia mengawali menanyakan dengan senyum ramah.

“ Saya Ellya, mba Zida mau kemana? ”

“ Saya mau ke bawah juga, mau ke koperasi ”

Mereka pun akhirnya turun bersama-sama.

Di ponpes tersebut kebanyakan santri-santrinya masih pelajar. Mulai dari tingkat menengah pertama hingga jenjang perguruan tinggi. Namun sekolah yang didirikan oleh Yayasan Al Mumtaz hanya MTs dan MA saja, sehingga yang sudah di bangku kuliah harus belajar di luar ponpes. Jam ngaji di sana juga hanya berlangsung dari ba’da Ashar, ba’da Isya sampai jam 10 malam dan kemudian dilanjutkan lagi dari ba’da Shubuh hingga pukul 6 pagi. Setelah itu, jam bebas kegiatan ponpes kemudian digunakan oleh santriwan dan santriwati untuk aktivitas pendidikan formal di sekolah atau bangku kuliah. Begitu selanjutnya setiap hari. 

Padatnya aktivitas di ponpes membuat Ellya harus siap untuk jarang pulang ke Dukuhanom desa tempat tinggalnya bersama orang tuanya di rumah. Meski jaraknya jika ditempuh dengan mengendarai motor hanya sekitar 50 menit saja.

Pada saat  jam  menunjukkan pukul setengah tujuh, Ellya sudah siap berangkat ke sekolah. Letak MA Al Mumtaz berada di luar komplek ponpes yang jaraknya sekitar 200 meter. Pagi ini Ellya ingin berjalan kaki karena ia ingin menikmati suasana yang berbeda dari biasanya. Ternyata benar juga seperti yang dikatakan Najmi sahabatnya, bahwa dengan berjalan kaki itu menjadi lebih seru dan dapat melihat apa saja yang belum tentu bisa dilihat olehnya ketika ia naik motor.

Ellya sungguh kerasan di pondok, apalagi ada mujahadah yang merupakan hal baru baginya tetapi mengasyikkan. Ia pun selalu ingat yang dikatakan pak Kyai dalam memberi nasehat-nasehat kepada santri-santrinya, mujahadah itu sebuah tradisi keagamaan yang masih relatif baru. Meskipun begitu, tidak keliru juga untuk dilaksanakan. Karena hal itu merupakan upaya pendekatan diri terhadap sang Khalik.

Ellya pun mencari tahu tentang ­mujahadah dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan itu. Seperti yang dibacanya, mujahadah berasal dari bahasa Arab jahada yang berarti bersungguh-sungguh berjuang sekuat kemampuan. Tetapi untuk kalangan sufi, istilah mujahadah itu mengacu pada disiplin asketis dan perjuangan spiritual di jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.

Pernah ditanyakan kepada Kyai oleh salah seorang hadirin yang dari luar pondok.

“Kalau boleh tahu Kyai, apakah inti dari mujahadah itu?” tanya Thalib membuka pertanyaan  ketika pak Kyai mensosialisasikan kepada masyarakat.

“Bagus sekali pertanyaan mas Thalib ini. Ya akan saya coba untuk menjawabnya.”

Nggih pak Kyai, agar kami semua yang hadir di sini jelas.” kata yang lain untuk menguatkan pertanyaan Thalib.

Sosialisasi mujahadah itu dilaksanakan setelah sholat Jumat yang diikuti oleh para Jama’ah baik anak-anak pondok maupun masyarakat sekitar masjid.

Mujahadah adalah permohonan yang bersungguh-sungguh kepada Allah. Karena bersungguh-sungguh maka didahului dengan mengagungkan Allah dengan membaca kalimah-kalimah thayyibah.

Dalam sosialisasinya Kyai Ma’shum memang santai, sehingga para hadirin pun merasa nyaman menerima materi yang disampaikan, bahkan bertanya jika masih belum jelas.

“ O.. nggih Kyai, maaf, saya sering mendengar kata-kata kalimah thoyyibah. Apa itu kalimah Thayyibah? Dan apa kalimah dalam al Qur’an itu ada yang thayyibah dan ada yang tidak thayyibah?” tanya hadirin yang lain. Kyai Ma’shum tersenyum mendengar rentetan pertanyaan yang baru saja dilontarkan .

“ Baik. Semua kalimah-kalimah dalam Al Qur’an itu baik atau thayyibah. Tetapi di antara semua itu, ada yang mengandung arti baik dan bisa digunakan sekaligus dilaksanakan sebagai pedoman, ada pula yang isinya sanjungan kepada Allah seperti yang sering diucapkan oleh Rasulullah. Dan ada pula kalimah yang merupakan do’a ” jawab Kyai Ma’shum sambil membetulkan tempat duduknya. Penjelasan dari Kyai Ma’shum itu disambut anggukan.

“Contohnya pak Kyai?” tanya beberapa orang secara bersamaan.

      “Contohnya ya membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, istishab, istifa’ dan lain sebagainya yang bila dibaca merupakan ibadah kepada Allah. ” Kyai Ma’shum diam sejenak sambil sekilas memperhatikan jama’ahnya. Kemudian lanjutnya,“ Ada pula yang merupakan surat-surat. Ada Surat Yasin, Surat al Mulk, Surat Waqi’ah. Dan ada pula ayat-ayat, misalnya ayat 1 – 5 Surat Al Baqarah, ayat kursi, 3 ayat terakhir surat al Baqarah. Wah kalau disebutkan itu masih banyak lagi, dan diakhiri dengan mengucapkan lafal  laa ilaaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah). ”

“ Maaf pak Kyai Apa kesemuanya itu akan kita baca ketika mujahadah.? ” tanya hadirin yang lain.

“Hahaha… tentu tidak. Sesuai dengan kemampuan kita saja … yah .. sekitar dua jam untuk pelaksanaannya. Diteruskan dengan do’a dan dilanjutkan shalat Subuh berjama’ah.   

Setelah mendapat  keterangan tentang mujahadah, Ellya antusias sekali mengikuti mujahadah yang dilaksanakan setiap malam Jumat itu, walaupun ayahnya sudah berkali-kali melarangnya. Saat ia pulang, ayahnya bilang agar ia keluar dari pondok saja. Sedangkan sekolahnya supaya dilaju (pagi berangkat siangnya pulang) dari rumah.

“ Kenapa sih pak ? pokoknya aku mau di pondok, karena ada ketenangan yang aku rasakan jika aku di sana. ”  Tukas Ellyasetengah membantah.

“Sebab di sana kamu harus mengikuti mujahadah setiap malam Jum’at itu ”. jawab ayahnya tegas. “ Apa kamu tahu dasar hukumnya mujahadah itu?”

  “Ya belum si “ jawabnya polos. “ Tetapi abah Kyai Ma’shum pernah mengatakan tentang itu beberapa waktu yang lalu .”

“Masalah lainnya, paginya kamu jadi mengantuk. Lalu bagaimana di sekolah. Kamu sudah di SLTA lo. Jangan main-main! Nanti nilaimu jeblok. Pokoknya bapak tidak mengizinkan lagi kamu tinggal di pondok.” Kata ayahnya dengan sangat bersungguh-sungguh.

“Tapi, Pak …..” jawab Ellya khawatir.

“ Pokoknya kamu tidak boleh mondok.” tukas ayahnya.

Ellya menangis karena kehendaknya tidak dituruti oleh ayahnya. Melihat hal itu ayah Ellya pun merasa kasihan. “Baiklah. Kamu boleh mondok lagi tetapi kamu harus bisa mendapatkan dalil tentang mujahadah itu “.

Paginya Ellya mendapat jawaban bahwa orang yang menanyakan dalil tentang itu berarti dia belum tahu, maka supaya mengaji. Memang adanya mujahadah yang diwajibkan kepada santri, sempat menjadi polemik di antara wali santri. Tidak hanya Ellya dan bapaknya saja. Tetapi wali santri-wali santri yang lain juga sama dengan ayah Ellya melarang Ellya untuk keluar dari pesantren. Bahkan ada yang memerintah agar anaknya keluar dari Madrasah ‘Aliyah yang satu atap dengan pondok Pesantren Al Mumtaz tersebut. Namun berkat kegigihan Ellya untuk bertahan mondok dan sekolah di tempat itu, maka teman-teman Ellya kembali lagi meneruskan pendidikannya di pondok Al Mumtaz.

Selama bulan Ramadhan, dan setiap pulang dari kegiatan Ramadhan di ‘Aliyah, Ellya selalu mampir ke rumah temannya untuk meyakinkan bahwa adanya mujahadah di pondok tersebut sangat bermanfaat dan mendorong keyakinan hati untuk selalu dekat kepada Allah. Dan kata orang-orang, barang siapa yang dekat kepada Allah maka Allah akan selalu mengabulkan do’anya. Satu per satu teman-teman yang tampaknya akan mundur dari pondok itu didatangi. Diyakinkannya mereka dan bahkan juga sebagian orang tua mereka ikut diyakinkannya.

Waktu yang terus berjalan membawa Ellya tamat ‘Aliyah dengan Prestasi ranking pertama di Kabupaten. Teman-teman menyalami dan Kyai Ma’shum juga mengucapkan selamat atas prestasi yang diraihnya. Sambil pamitan ayahnya berkata pada Kyai Ma’shum. “Ini berkat bimbingan dari pak kyai terutama do’anya dikabulkan Allah karena didahului dengan Mujahadah”.

“Bukan itu saja .” Jawab kyai Ma’shum.

“Lalu apa Kyai ? ” Tanya ayah Ellya.

“ Yakni kesungguhan dari Ellya itu sendiri dan do’a kedua orang tuanya juga. Saya menyaksikan sendiri, kesungguhan Ellya patut diacungi jempol. Terutama saat santri-santri akan bubar karena isu mujahadah, berapa andil Ellya untuk menenangkan suasana sehingga semua temannya waktu itu tidak jadi keluar, dan tetap mondok sampai tamat sekolah mereka.”

Keistimewaan Ellya juga perlu dihargai. Coba bayangkan selama 3 tahun ia sekolah di sini, berangkat maupun pulangnya selalu berjalan kaki saat berangkat maupun pulangnya. Meski sering juga merasakan berat bila bertemu teman yang lain.

Padahal orang yang berangkat atau pulang sekolah berjalan kaki itu, sering kali dicibir orang, dikatakan orang tidak mampu lah, orang miskinlah, anak kunolah! “ Ahh… itu salah besar.”  Katanya. Mereka berkata begitu karena mereka belum tahu asyiknya berjalan kaki. Makanya Ellya tak mempedulikan omongan mereka. Ia jadi ingat apa yang dikatakan ibunya yang berkata anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.  Suluk  (perjalanan) pasti penuh coba dan goda, omongan orang itu salah satunya. Menurut Ellya pun ketika kita sudah yakin melaksanakan yang benar, tidak perlu sakit hati jika ada orang yang mengolok-olok apa yang kita laksanakan itu. ” kata kyai Ma’shum.

“Dan di pondok ini ia juga sempat dipilih sebagai ketua OSIS sekolah, dan ternyata kepemimpinannya bisa dibanggakan karena kemajuan siswa sangat pesat setelah dia menjadi ketua OSIS. Beberapa peringatan hari-hari besar pun selalu dilaksanakan baik itu hari-hari besar nasional maupun hari besar Islam.” 

“Sebetulnya mujahadah itu sangat penting bagi orang-orang yang membutuhkan apa saja yang diinginkan.” Kata Kyai Ma’shum menjelaskan kepada ayah Ellya. Mujahadah adalah bentuk permohonan yang rutin selama keinginannya belum dikabulkan Allah. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencapai yang diharapkan. Tetapi dibalik itu semua, kita juga supaya mohon kepada Allah agar apa yang diusahakan bisa tercapai.”

Disamping itu, shalat merupakan pencegah dari perbuatan keji dan mungkar, sedang dengan mujahadah orang akan terjaga dari perbuatan jelek lainnya. Pokoknya dengan mujahadah, kita selalu berfikir baik dan benar. Semoga mujahadah juga lebih mendekatkan diri kepada Allah serta Allah mengabulkan do’a hamba-Nya yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya.”

Nggih, Bah.” Kata ayah Ellya.

Kyai Ma’shum melanjutkan,“ Banyak sekali orang-orang yang sudah berusaha mati-matian sampai dikatakan orang Jawa  sirah nggo sikil lan sikil nggo sirah, tetapi jika Allah belum mengabulkan, maka gagal di tengah jalan.”

“ Ya pak Yai. Mudah-mudahan ini semua berkat do’a kita semua.“ bertiga bersama, “Amin.”

“Selanjutnya kamu El, teruskan belajarmu dan jangan lupa ikuti dengan  do’a. Dan setelah tamat dari Perguruan tinggi jadilah kamu Sarjana yang Islami dan muslimah yang cerdas. Kemudian ilmu yang selama ini kau cari, titipkan kepada orang lain, sehingga kamu akan mendapat pahala yang berlipat ganda.”  Kembali lagi mereka bertiga mengucapkan,“ Amin.”

Sekarang sudah memasuki bulan Sya’ban, seperti biasa bahwa di akhir  bulan di ponpes itu diadakan acara Akhirussanah. Sehingga anak-anak yang menjadi panitia sudah mulai beraksi melaksanakan tugas-tugasnya. Lebih-lebih seksi acara. Mereka paling sibuk karena merekalah yang menerima tanggung jawab yang besar untuk menangani berlangsungnya acara tersebut. Terutama sekali acara pementasan-pementasan guna memeriahkan acara akhirussanah para santri ponpes Al Mumtaz.

Namun ada yang berbeda dengan akhirussanah tahun-tahun yang lalu. Biasanya pementasan-pementasan  kesenian hanya yang dimiliki oleh ponpes saja. Seperti hadroh, grup nasyid dan teater Lasmu yang terkenal itu. Tetapi tahun ini Kyai menghendaki lain. Beliau malah mengundang kesenian dari luar ponpes dan bahkan mengundang kesenian-kesenian yang diprediksi tidak Islami. Seperti wayang orang, jathilan, opera, band-band dan pemutaran film-film pembangun jiwa yang sedang booming di masyarakat.

Tepat lima hari sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, digelarlah acara puncak akhirussanah ponpes Al Mumtaz. Acara hiburannya berlangsung selama tiga hari tiga malam full, dua hari dua malam pertama dihabiskan untuk pementasan-pementasan sebagai hiburannya dan hari ketiganya digunakan untuk acara inti dari akhirussanah tersebut.

Alhasil, karena pementasan-pementasan dari luar ponpes itulah sehingga mengundang pengunjung dari berbagai kalangan. Ada yang dari abangan, santri balo (santri setengah matang) dan juga tidak sedikit wali santri yang datang mengunjungi acara tersebut. Dari berbagai kalangan masyarakat itu timbul pro dan kontra, terutama para pengunjung yang hadir pada acara tersebut. Termasuk juga wali santri. Bagi orang-orang yang kontra beranggapan bahwa sebagai seorang Kyai jika menyelenggarakan tanggapan yang non Islami yang memicu berbagai perbuatan maksiat itu sangat memalukan dan sangat tidak pantas. Sehingga di antara wali santri banyak yang akan mencabut anaknya agar tidak mondok di situ lagi dan akan dipindahkan ke ponpes yang lain. Tetapi bagi yang pro atau setuju termasuk Ellya, mereka berpikiran bahwa mungkin pak Kyai mempunyai maksud tersendiri yang mengandung banyak nilai-nilai positif dibalik semua itu. Dan pada dasarnya Ellya memang suka tentang budaya dan tradisi di Jawa.

Bulan Ramadhan telah tiba, bulan suci bagi umat Islam. Tetapi untuk masyarakat desa dan ponpes Al Mumtaz bernuansa lain. Kasak-kusuk tentang tanggapan pada akhirussannah yang lalu pun terus berlanjut. Tidak terkecuali Ellya yang langsung dipanggil oleh ayahnya untuk pulang walau.

Ayah mengajaknya duduk, lalu berkata, “Ayah semalam ikut perayaan akhirussunnah di ponpesmu El . Tetapi dengan adanya tanggapan atau hiburan yang seperti itu, ayah kok jadi punya firasat lain.“

“Firasat apa yah? Ellya ingin tahu.”

“Masa ada ponpes pesantren kok mengundang pertunjukan yang tidak Islami ? Katanya pesantren sana mempunyai grup Hadroh yang sudah pernah juara di Provinsi. Mengapa bukan itu saja yang dipakai ?’’

Ellya masih mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya walau sebenarnya ia ingin sekali menyampaikan unek-uneknya itu. Tetapi ia masih bisa bersabar.

“Soalnya dalam kaidah fi’liyah mengatakan man tasyabbaha fahuwa minhu. Barang siapa yang menyerupai mereka maka orang itu merupakan golongannya.” ayahnya menambahkan.

“ Ya pak…, betul. Memang pada waktu pengajian umum menjelang dimulainya kegiatan akhirussanah, abah Kyai sudah menyampaikan,“ Acara hiburan kali ini, kita akan mengundang hiburan dari luar ponpes, bahkan hiburan dari luar kesenian Islam. Tujuan saya untuk merangkul orang-orang yang belum mengetahui Islam, agar mereka mau mendekat kepada kita sehingga asumsi mereka bahwa Islam itu hanya digunakan oleh Islam saja. Tapi Islam yang rahmatan lil’alamin bisa dan digemari oleh orang-orang yang non Muslim. Mudah-mudah gebragan kali ini banyak orang-orang yang tadinya Islam pengakuannya saja, besok akan menjadi orang Islam yang Islami”.

“ Tapi …… ” kata ayahnya yang terus disambut oleh Ellya, “Yah…. kata pak Kyai pula, kalau kita tidak mau merangkul mereka maka siapa yang akan merangkulnya ? Siapa yang akan mengajak mereka beribadah ? Siapa yang akan mengajari mereka beribadah? ” tukas Ellya memberi keterangan kepada ayahnya.

Kasak-kusuk tentang hiburan akhirussanah di ponpes Al Mumtaz itu berkembang sampai ke mana-mana terutama di kecamatan Pucang gading. Para Kyai di desa lain pun banyak yang memprotes pak Kyai ponpes Al Mumtaz. Di samping banyak pula orang-orang Islam yang belum mau shalat, mereka berdatangan menghadap pak Kyai ponpes untuk mengacungkan jempol dan siap membantu serta memasukkan anak ke ponpes itu. Berbagai alasan diutarakan, ada yang mengatakan tidak fanatik, ada lagi yang mengatakan solider atau tasamuh dan alasan lain yang cukup dapat mendukung keberadaan ponpes tersebut.

Ramadhan telah usai, gema takbir berkumandang.., kembang api menghias langit lepas.., menambah semaraknya malam lebaran ini. Senyum penuh kebahagian dirasakan semua ummat Islam.., terlebih tahun ini bisa berlebaran dengan bersama-sama tanpa ada perbedaan dalam penentuan hari lebaran.

Paginya semuanya terlihat cantik-cantik dan cakep-cakep. Berbondong-bondong orang dengan berdandan rapi dan kinclong menuju lapangan yang yang berada di komplek ponpes, tidak terkecuali para santri dan santriwati yang sengaja tidak pulang untuk berlebaran di ponpes. Mereka semua datang untuk mengikuti shalat ‘Ied yang hanya bisa dilakukan satu tahun sekali.

Dalam khutbah shalat ‘Ied, pak Kyai Ma’shum menyampaikan yang intinya: “ Memang mudah menjadi Kyai yang mengajari orang-orang Islam yang sudah taat beribadah, karena mereka datang ke masjid itu sudah punya keinginan untuk beribadah. Namun saudara-saudara sekalian.., bagaimana saudara-saudara kita yang belum mau beribadah dan bahkan memusuhi kita. Ini sangat perlu bagi kita untuk mengajak mereka. Sehingga cara-cara untuk mengajak mereka adalah mendatangkan mereka kemari. Ingatlah bahwa teh yang dimasukkan ke dalam air panas di gelas, atau bahkan panci maka tidak akan luntur. Tetapi air itulah yang menjadi luntur karena diwarnai oleh teh yang kita masukkan ke dalamnya ”.

Kali ini shalat ‘Iednya sengaja dilaksanakan di lapangan ponpes, sehingga jama’ahnya bukan hanya anak-anak ponpes saja tetapi segenap lapisan masyarakat di desa itu berkumpul menjadi satu untuk shalatIed bersama-sama.

Dan ternyata acara silaturrahmi ponpes pun diikuti juga oleh orang-orang yang tadinya antipati tehadap keberadaan ponpes Al Mumtaz itu. Mereka sowan untuk silaturrahmi sekaligus meminta maaf kepada Kyai Ma’shum. Mereka mengaku salah paham dan gegabah, dan mohon izin untuk memasukkan anak-anaknya ke pondok Al Mumtaz kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here