Melancong ke Kampung Martin Luther, Heidelberg

0
138

Tidak ada sebuah rencana yang final mengenai perjalanan ke suatu tempat. Hal itulah yang pernah aku alami tatkala mendapatkan kesempatan untuk melakukan riset di tanah Eropa, tepatnya di Freiburg, Jerman. Kesempatan itu datang bukan secara tiba-tiba tentunya. Aku harus menabung mimpi selama setahun ke belakang untuk menjadi kontestan terpilih. Tanpa diduga, kesempatan itu datang.
——————————

Bunyi pesan masuk berdering di ponselku. Sebuah pesan via aplikasi Whatsapp masuk. Dengan seketika, aku langsung mencari sebuah tempat duduk di sekitar Gereja Johannes (Johanneskirche), tak jauh dari pusat kota Freiburg. Tampaknya keberuntungan berpihak kepadaku. Tak jauh dari situ, terdapat sebuah halte tram (StrasseBahn), yang biasanya menjadi ruang tunggu bagi para penumpang. Ku tuju tempat tersebut dengan sedikit ngebut.

Tak lama, kuketahui bahwasanya mitra risetku, Charlotte sekonyong-konyong ingin mengajakku untuk singgah dan sowan ke rumahnya. Rasa bingung seketika merundungku, karena terdapat agenda rencana riset yang tergolong padat dari hari ke hari. Apalagi waktu sudah berjalan dua minggu. Dan aku belum mendapatkan data yang komprehensif mengenai proyek riset terkait.

Setelah menimbang beberapa saat, aku memutuskan untuk mengiyakan ajakan temanku tersebut meskipun dalam hati, masih mengutuk kenapa masih sempat-sempatnya untuk jalan-jalan. Namun, di sisi lain hati kecilku berbisik bahwasanya itu adalah salah satu kesempatan emas, yang mungkin saja tidak datang dua kali. Apalagi kudengar bahwa tak lengkap mengunjungi Jerman, jika melewatkan Heidelberg. Karenanya, aku pun meminta Charlotte untuk segera memesan tiket bus ke Heidelberg, dan menyiapkan uang pengganti tiket tersebut.

Tak berapa lama, Charlotte mengirimkanku sebuah barcode tiket FlixBus yang menandakan bahwasanya tiket sudah dipesan dan kita tinggal menunjukkan tiket tersebut kepada petugas bus sebelum lepas landas. Hari itu, aku dipenuhi guratan senyum yang melebar dan sudah tidak kanti untuk melihat apa yang akan terjadi di keesokan hari.

Kita sudah janjian untuk bertemu pukul 8:30 di stasiun utama kota Freiburg. Dengan bergegas aku memutuskan untuk mandi lebih awal, dan tak lupa untuk menyiapkan berbagai peralatan dan perlengkapan yang wajib dibawa. Uang senilai €100 dan paspor tak lupa kumasukkan ke ransel, selain ponsel, beberapa baju dan sepatu yang otomatis ikut serta. Tak lama kemudian, kami berjumpa di stasiun dan kusapa, Wie geht’s?. Dia tersenyum sumringah dan menapakkan gurat manis di bibirnya. Sehr gut, balasnya. Kita berbincang selama kurang lebih 10 menit, ketika bus yang kami tunggu akhirnya, tiba.

Perjalanan kami tempuh selama satu jam, ketika kami mendengar kondektur mengumumkan bahwa kami telah sampai di Kota Heidelberg. Sejenak, tidak ada yang berbeda dengan situasi Freiburg. Namun, aku melihat bahwa kota ini lebih besar dan menyimpan kemegahan bangunan gereja yang terserak rapi di berbagai sudut kota.

Suasana Kota Heidelberg

Sesampainya disana, aku langsung disambut ibunya Charlotte. Tampak keakraban sangat terasa bagiku. Apalagi kudengar bahwa orang Jerman konon,tidak terlalu ramah. Namun, nyatanya hal tersebut keliru. Beliau sangat antusias untuk menyambutku. Siang itu, beliau disibukkan dengan pesta ulang tahunnya. Beliau menyambutku dengan dwibahasa, karena terkadang aku masih kesulitan untuk memahami Bahasa Jerman. Aku patut bersyukur karena dia memaklumi itu dan memilih berbahasa Inggris. Kami menyiapkan sajian salad, wine dan beberapa sajian kue dan daging bagi para tamu udangan. Beliau tak segan untuk menanyakan kabar dan apakah aku kerasan untuk berkunjung kesana. Dengan senang hati, kujawab dengan jujur dan apa adanya.

Tak lama bersiap siap, tepat jam 4, tamu undangan sudah mulai berdatangan. Lain dari orang Indonesia pada umumnya, orang Jerman memang dikenal dengan budaya tepat waktunya. Oleh karena itu, teman Jermanku kadangkala heran mengapa orang Indonesia mengenal “jam karet”.

Acara dimulai dengan tiup lilin terlebih dahulu dan mengucapkan permohonan (make wish). Setelahnya, acara makan makan pun dimulai. Pertama kali, kami dipersilahkan untuk mengambil kue, dilanjut dengan sajian daging dan sebuah wine Perancis bermerek. Obrolan diantara kamipun dimulai. Semua tamu sangat antusias untuk berpendapat, dan tak jarang mereka menaikkan nada bicara. Karena terlampau lelah, aku memilih untuk pamit dan menuju kamarku. Amboi, aku sangat heran dengan budaya ngobrol mereka, yang berlangsung hingga enam jam tanpa jeda.

Keesokan harinya, Charlotte telah berjanji untuk menemaniku keliling kota Heidelberg. Kota klasik yang menjadi destinasi favorit pelancong, tentunya. Disekelilingku, terdapat berbagai macam manusia dari berbagai belahan dunia. Dan hampir semuanya takjub dengan berbagai bangunan yang ada. Jika melihat Heidelberg, satu pemandangan yang jamak dilihat adalah satu sungai yang membelah kota tersebut. Di kedua sisi sungai, tertata rapi rumah dan hotel yang menjadi lokasi singgah bagi para pelancong luar kota, bahkan luar negeri. Tak ayal, harga sewanya pun meroket, hingga mencapai €4000.

Perjalanan kami terus berlanjut. Lorong demi lorong kusinggahi. Hingga sampailah, di sekitar lokasi Universitas Heidelberg. Aku pikir, kemegahan kampus tersebut tergambar dengan bangunan-bangunan gothik yang mengitarinya. Tak ayal, pemikir-pemikir fenomenal, seperti Hannah Arendt lahir dari kampus tersebut. Mendengar kata Hannah Arendt, temanku langsung menyambut bahwa memang ada sebuah gapura, dimana Hannah Arendt tinggal. Di tempat itulah, kemudian aku meneruskan langkah.

Kemegahan Schloss Heidelberg

Mengunjungi Heidelberg tak afdol, jika belum mengunjungi Schloss Heidelberg. Schloss dapat diartikan sebagai bangunan istana klasik yang berdiri pada sekitar abad 15 dan 16. Benar saja, dengan menaiki berbagai anak tangga, meski terdapat kereta yang mendaki bukit, kami sampai di lokasi. Pemandangan kota Heidelberg dapat disaksikan melalui pelataran utama Schloss tersebut. Tak lupa, aku menyempatkan untuk memotret kertas harapan, yang teman-teman titipkan. Karena tempat tersebut terlihat sangat berkelas, dan mencerminkan Eropa.

Kastil bersejarah

Menginjak pelataran berikutnya, tampak ada sebuah benteng yang terbelah. Ternyata sebagian bangunan yang ambruk memang dibiarkan begitu saja, sebagai monumen sejarah terkait perang Jerman-Perancis pada abad 20 silam. Menurut ingatan sejarah, Jerman dan Perancis adalah negara tetangga yang dikenal bertikai satu sama lain. Dan keberadaan bangunan ambruk tersebut adalah saksi bisu pertikaian tersebut.

Perjalanan kami ditutup dengan mengambil beberapa foto di sekitar Schloss, sambil memandang senja. Sepasang es krim vanilla seharga €1,5 kami santap saat hendak kembali ke peraduan. Dan kenangan untuk kembali masih bersemi, meski saat ini tengah berteduh di tepian kali Mengaji.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini