Mencari Titik Peka Indonesia 2

0
351

Noh lahir di sebuah hutan bambu di Myanmar, di daerah yang tak ada listrik, tak ada sekolah bahkan tak ada sepatu. Masa kecil dan remajanya hanya dihabiskan untuk bercocok tanam. Noh tak mengenal sekolah, tak bisa membaca dan menulis. Saat usianya 19 tahun, rezim militer memerintahkan untuk mengosongkan hutan tempat tinggal Noh. Dia pun lari ke Thailand. Noh lantas tinggal di camp pengungsian. Meski camp pengungsian ini jauh dari kata layak, namun di tempat inilah Noh belajar membaca dan menulis untuk pertama kalinya.

10 tahun kemudian Noh mendapat kesempatan suaka di Amerika bersama istri dan kedua anaknya. Mereka ditempatkan di Charlottesville, Virginia. Menjalani Kehidupan baru di Amerika bagi Noh tentu tak mudah. Noh tak bisa bahasa Inggris, kemampuan bacanya sebatas apa yang ia pelajari di camp pengungsi.

Noh lantas dipertemukan oleh LVCA dengan sukarelawan yang mengajarinya bahasa inggris dan literasi dasar. Saat ini Noh dan keluarganya telah menjalani kehidupan normal di Charlottesville.

Literacy Volunteer of Charlottesville/Albemarle (LVCA) merupakan organisasi non profit yang menyediakan personal tutor terkait literasi dasar dan bahasa inggris untuk orang dewasa yang membutuhkan. LVCA mempertemukan volunteer (sukarelawan) dan peserta didik untuk wilayah Charlottesville dan Albemarle County. Kebanyakan peserta didik adalah pengungsi yang berasal dari pelbagai negara.

Kisah-kisah inspiratif dan mengharukan para peserta didik LVCA (seperti kisah Noh) dirangkum secara apik dalam buku “The joy of writing” (bisa didapatkan di amazon).

Pada tahun 2018, LVCA melayani 482 peserta didik yang berasal dari 47 negara. Mereka difasilitasi oleh 440 sukarelawan yang telah membukukan 32.987 jam pembelajaran. Dengan kata lain, rata-rata setiap sukarelawan telah menyumbang waktunya sebanyak 75 jam per tahun atau satu hingga dua jam setiap minggu.

Barangkali para sukarelawan LVCA tidak menyangka bahwa satu hingga dua jam yang mereka luangkan setiap minggunya telah mengubah hidup seseorang.

Salah satu hobi saya adalah mengumpulkan resep dan rahasia dibalik kemajuan sebuah negara. Saya gemar mengkoleksi teori2 pembangunan dan memilah mana yang kiranya bisa diterapkan di Indonesia.

Pada akhirnya saya sadar bahwa kita tak bisa mencontoh sepenuhnya resep kemajuan baik resep ala barat (US, eropa) maupun ala timur (China, Korea Selatan). Selalu ada lubang besar menganga dibalik cerita2 kemajuan yang saya dengar.

Banyak orang memuji keajaiban Korea Selatan menjadi Negara Industri dan kaya dalam waktu singkat. Namun kemajuan ini dibayar dengan masyarakatnya yang penuh tekanan dan tidak bahagia (ditandai dengan angka bunuh diri yang demikian tinggi).

Kemajuan Indonesia tak akan bermula dari kebijakan sentralistik dan top-down ala China, juga tak akan bermula dari spirit kompetisi, kerja keras dan kapitalis ala Amerika.

Saya tersenyum bahagia ketika kawan SMA saya mengabari via WA tentang kemajuan sekolah berkebutuhan khusus yang dirintas keluarganya di Cilacap. Saat SMA dulu, ibunya bercerita tentang perjuangan dia meyakinkan para orang tua yang buah hatinya berkebutuhan khusus agar tak patah asa dan mau mensekolahkan anaknya.

Saya senang mendengar kawan saya di ITB kini berjuang memakmurkan masjid melalui “Berkahbox”. Jika LVCA mendistribusikan tutor, Berkahbox mendistribusikan makanan (melalui donasi) ke masjid-masjid. Saya senang ketika beliau berbagi cerita di FB bahwa masjid menjadi ramai. Awalnya mungkin orang ramai ke Masjid untuk cari makan atau wifi gratis. Bukan tak mungkin berikutnya Masjid akan tumbuh menjadi pusat pergerakan.

Saya bahagia ketika guru-guru berkumpul, berserikat, lantas membuat gerakan sagusabu (satu guru satu buku) untuk memicu guru agar menulis. Saya senang ketika mereka baru saja membuat perhelatan temu guru penuis.

Kemajuan dan titik peka Indonesia akan bermula dari masjid-masjid, Persatuan guru, kelompok tani, poskamling, desa, kelompok arisan dan qasidah ibu-ibu, karang taruna, dsb.

Kemajuan Indonesia adalah kemajuan kelompok2 masyarakat dalam level yang paling bawah disemua lini, digerakan oleh sukarelawan.

Indonesia akan jaya ketika semakin banyak orang memiliki jiwa sukarelawan.

Apa yang akan kita lakukan sekiranya kita bertekad meluangkan satu hingga dua jam per minggu untuk menjadi “sukarelawan”?

Jika keprihatinan kita adalah literasi, mungkin kita akan mengumpulkan buku bacaan dari kawan2 dekat kita, lantas membuat taman bacaan mini untuk anak-anak tetangga. Atau sekedar di taruh di masjid terdekat.

Jika keprihatinan kita adalah managemen, mungkin kita akan membantu rekap data atau administarsi sebuah panti asuhan.

Jika tak ada ide, kunjungilah portal turuntangan dan semoga ada program yang bisa kita bantu.

Apapun itu, jadilah sukarelawan. Sumbangkan sedikit harta dan luangkan sedikit waktu yang kita punya, setidaknya satu jam setiap minggu nya.

Semoga bermanfaat.

Charlottesville, 12/24/2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here