Menjadi “Murid” Kehidupan

0
12

Pandemi Covid-19, betul-betul menjadi ajang pembelajaran bagi siapa saja. Semua sepertinya sedang diajak untuk menjadi “murid” oleh situasi dan kondisi alam nyata ini. Apapun “baju” jabatan kita, kita sedang diajak berenang di lautan ilmu. Termasuk juga guru, orang tua, tak terkecuali, para siswa, baik sekolah Dasar, Menengah maupun Atas.

Bagi orang tua yang masih mempunyai anak yang duduk di bangku SD, betapa super ekstranya orang tua mengeluarkan, tenaga dan pikiran untuk sang anak.

Matematika dan pelajaran lain sangat sulit bagi orang-orang tertentu, jika kemudian tiba-tiba harus diampu oleh orang tua di rumah. Dari sisi inipun, rupanya kita harus siap menjadi murid, mungkin bahasa kerennya adalah menjadi manusia pembelajar, dalam lintas ilmu apapun.

Matematika, yang idealnya adalah tatap muka antara murid dan guru, sementara ini cara itu sedang ditiadakan, untuk sebuah niat mulia, memutus merebaknya pandemi corona. Otomatis orang tua dirumah harus siap mendampingi sekaligus mengajari isi modul yang diberikan guru kepada muridnya. Disinipun tentu kita harus ikhlas kembali belajar. Minimal belajar sabar, melihat modul dari sekolah anaknya, yang belum tentu semua orang tua siswa, menguasai materi tersebut.

Ternyata tidak gampang. Ternyata menjadi guru itu tak semudah yang kita bayangkan.Ternyata jika anak didiknya membangkang perintah guru, sang gurupun seperti manusia lainnya juga, tentu punya rasa sakit hati.

Sering ada pertengkaran antara anak dan seorang ibu di rumah. Ibunya begitu serius mencari jalan keluar untuk Pekerjaan Rumah anaknya, tapi ternyata anaknya tidak memperhatikan dan tidak disiplin. Sang ibupun marah. Pertengkaranpun terjadi. Sistem BDR (Belajar dari Rumah) pun dinikmati kita bersama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Kita berharap secepatnya bisa masuk sekolah kembali seperti biasa. Sistem dalam jaringan (daring) lambat laun menjadi tatap muka kembali. Guru kelas bisa berhadapan lagi dengan siswa. Orang tua kembali fokus bekerja, dan semoga makin menyadari bahwa mendidik anak itu tidak ringan.

Rasanya, kita ini sedang diingatkan kembali untuk terus belajar dan tidak berhenti. Belajar dari apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan saat ini. Menjadi sosok yang tidak bosan untuk menjadi “murid” kehidupan nyata, bukan kehidupan maya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here