Menyoal Regem dan Peralihan Nalar

Tanggapan terhadap tulisan Sus Woyo tentang Tradisi Regem Yang Makin Hilang

0
49

Sungai tajum sudah jadi rintisan penambang emas tradisional… iming biji berkilau kuning itu, sedikit banyak telah mengubah pola pikir sekaligus kearifan lokal. Sepertinya lagi keseimbangan ekosistem sungai, atau lestarinya habitat flora fauna. Maka tak heran ketika di sungai tak lagi menjanjikan, mereka berburu ke lahan sekitarnya.

Lagi-lagi, perburuan ekonomi jadi musuh ekologi. Nalar agraris telah berganti jadi nalar kapitalis. Sapa sing pengin adem wetenge, kudu wani panas gigire, tak cukup sampai di situ.

Kebutuhan tepatnya hasrat, untuk lebih dari perut telah memaksa mereka berubah. Mereka tak ingin jadi orang desa yang jadi olok-olok kota. Mereka berhak menaiki Pajero, TRD Rush, ataupun sekolah tinggi. Sudah tidak jamannya lagi jadi TKI yang, membuat kembali isteri lupa suami, atau suami lupa isteri.

Pelik membahas semua peralihan itu. Tak hanya soal ekonomi semata, tapi ekonomi tak bisa ditampik menjadi pemantik semua. Ya, regem, bener, ngonceng sudah hanya menarik yang hanya dilihat judul dan dibaca selintas saja. Ah, mereka pasti berkata, berakit rakit ke hulu berenang ketepian, yang bersakit2 itu orang dulu, orang sekarang harusnya bersenang-senang. Mereka akan mencibir, mereka yang merindukan romantisme masa lalu itu orang yang tak berani memandang masa sekarang…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here