Pak Sae

0
58
Pak Sae

Bapakku bukanlah apa-apa dan bukan pula siapa-siapa. Hanya seorang lelaki yang tak lagi muda, sama persis dengan masyarakat pada umumnya. Sendainya bapak tiada, tak seorang pun akan mencari sebab ketika ada pun tetap membiarkannya. Ada dan tiadanya bapak tidak akan menguntungkan, tidak pula merugikan. Semua datar-datar saja. Tak ada yang beda dari sosoknya, tiada yang istimewa tingkah lakunya. Hanya saja orang-orang terlalu berlebihan memanggilnya “pak Sae”, tapi itulah adanya. Bagi mereka bapak adalah orang biasa yang terlihat istimewa. Bapak adalah pak Sae. Bapak yang kini menginjak usia 69 tahun, adalah pak Sae. Seorang kepala keluarga dengan seorang isteri dan 3 anak-anaknya, adalah pak Sae.

Di mana bapak menemukan panggilan pak Sae? Adakah suatu sore, sepulang merumput kambing-kambingnya berkata, “Sae…” Bukan, kambing hanya mengembik, “Mbe…” Atau bapak sendiri yang meminta orang-orang, satu per satu, untuk menyebut pak Sae? Ah, tidak mungkin! Tak bisa aku membayangkannya.

Sebutan pak Sae demikian melekat bukan lantaran ia bernama Saeful. Saebah pun bukan pula namanya. Lalu apa? Setahuku sebutan pak Sae telah dikenal semenjak dulu. Sejak terjadinya suatu peristiwa. Waktu aku belum lahir, 30 tahun silam.

Semenjak 1981.

Sepanjang hari itu cuaca tidak menentu. Langit mendung tapi tak ada hujan. Rintik-rintik air pun tidak, hanya mendung. Meski begitu bukan berarti bapak membolos kerja, di sawah. Cuaca tidak membuat seisi kampung mengubah aktivitasnya masing-masing, laki-laki kerja dan sebagian ibu serta anak-anak tetap di rumah. Seperti biasa.

Kakang..!

Teriakan histeris sore itu tiba-tiba mengubah suasana kampung yang begitu lengang, terdengar hingga puluhan meter. Penuh teka-teki. Selang beberapa detik, seorang gadis imut keluar dari rumahnya, nangis ketakutan. Seisi kampung berubah tegang, masing-masing saling menatap dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Dengan tergopoh-gopoh pak Ilyas keluar, diikuti isterinya dengan lari. Langsung menuju sumber suara.

Seonggok tubuh terbujur kaku di pembaringan. Matanya merah melotot. Busa putih menetes dari mulut yang menganga. Itu adalah kang Karim. Di sampingnya seorang wanita meringkuk pingsan. Pak Ilyas dan isterinya terperanjat, diam di tempat. Keduanya tak berani masuk, hanya menutup hidung. Udara dalam ruang seluas 3 m2 itu telah dicemari bau tak sedap, melebihi bau kebocoran tabung gas LPG. Aroma itu keluar dari jasad kang Karim, aroma yang membuat isterinya tak sadarkan diri. Padahal sebelumnya tak ada kabar apapun, apalagi berita bahwa kang Karim menderita sesuatu, sedikit demam pun tidak. Akan tetapi isterinya yang baru saja pulang dari pasar, tiba-tiba menemukan tubuh itu meringkuk. Begitu tahu bahwa itu bukan tubuh tetapi mayat, ia berteriak. Siapa tahu setelah dipanggil, suaminya akan kembali menjadi baik. Bertobat. Sayangnya kang Karim sudah sangat jauh pergi meninggalkannya hingga tak mungkin kembali, apalagi untuk bertobat. Tragis.

Semua sudah terlambat.

Laki-laki dan wanita sudah berkerumun di rumah kang Karim. Tidak bertindak apapun, selain kasak-kusuk. Seseorang mengatakan kutukan, yang lain menjawab santet, lainnya berbisik tumbal dan kebanyakan hanya manggut-manggut. Tak ada rasa iba apalagi belasungkawa di wajah-wajah. Satu-dua orang yang akhirnya berlanjut jadi jamaah tersenyum kecil, merasa diuntungkan secara moral.  Pasalnya kang Karim yang dikenal sebagai gembong dunia gelap tamat riwayatnya. Kini masyarakat tak perlu merasa was-was.

Pak Jangi yang tak sampai hati melihat kejadian itu, keluar mencari bapak. Kebetulan bapak baru pulang merumput. Bau keringatnya belum kering, tapi pak Jangi tetap mendesaknya pergi.

“Sana kamu lapor pak Kayim[1],” pinta bapak.

Keduanya berangkat untuk tujuan berbeda. Begitu sampai, bapak langsung masuk.

Buka jendela, Dar!” diperintahnya Darsono.

Isteri kang Karim dievakuasi, dipindah ke ruang tengah. Jenazah diurus dan lainnya mempersiapkan pemandian. Tiga orang membuat lubang seadanya, lainnya mengambil dipan jenazah serta keranda sementara ibu-ibu sibuk mengambil air lalu mengumpulkannya di ember besar. Masing-masing bekerja suka rela, menyesuaikan kemampuan masing-masing. Kurang dari 1 jam, kang Karing sudah bisa dipindahkan ke pemandian. Sekujur tubuhnya disiram, termasuk tato serta tatu bekas lukanya. Busa dalam mulut dan seluruh kotoran yang menempel dibersihkan, tanpa sisa. Kulitnya yang kotor terlihat bersih, aromanya berubah wangi. Bukan wangi kasturi atau melati, tetapi wangi mayat. Begitu usai dikeringkan, 9 lubang tubuhnya ditutup dengan kapas, beberapa lembar kain pun dilekatkan lalu dipocong.

Tepat sebelum adzan Maghrib usai, kang Karim selesai mandi dan berdandan. Lalu masuk keranda, bapak ikut membantunya. Setengah jam kemudian tiga baris kecil telah berjajar di belakang. Mereka bukan sedang menunaikan Shalat Maghrib bersama kang Karim tetapi menyolatkannya. Shalat 4 raka’at tanpa sujud dan ruku’, itu Shalat Jenazah.

Begitu shalat usai, hujan turun sangat deras. Menghujam bagai lemparan panah pasukan Saladin sewaktu menggempur tentara Eropa. Semua orang tunggang-langgang menyelamatkan diri. Untung saat itu hanya air yang turun, atap-atap seng berdentuman tapi tidak sampai roboh. Hanya saja suasana malam menjadi begitu sepi. Tak seorangpun berani keluar rumah, entah karena hujan atau karena terbayang wajah kang Karim yang terbelalak kaku.

Selain bapak, pak Ilyas dan 2 orang lainnya tiada lagi yang datang melayat. Mungkin karena payung-payung mereka rusak atau dipinjam tapi belum kembali. Di sudut rumah kang Karim memang ada beberapa payung, mungkin itulah payung-payung mereka. Namun kalau dilihat dari jumlah dan keadaannya, tidaklah mungkin kecuali payung-payung milik bapak, pak Ilyas dan 2 orang lainnya. Entahlah, pastinya bukan karena payung yang menyebabkan hujan turun begitu deras tak henti-henti.

Malam itu tak ada pembacaan tahlil, apalagi yasin. Di antara keempat pelayat itu hanya bapak yang bisa membaca, sayangnya isteri kang Karim tidak menyimpan selembar al-Qur’an pun. Dan bapak pun tidak membawa kacamatanya. Tak ada aktivitas lain yang dapat dikerjakan selain duduk menunggu mayat, sambil ngobrol, ngopi  dan menghabiskan beberapa linting rokok, hingga pagi.

Tengah malam hujan mereda. Seisi rumah berikut kang Karim, tertidur pulas di tempatnya masing-masing. Bapak tertidur di kursinya. Tak seorangpun tahu kalau saat itu serombongan orang misterius datang. Tak ada suara kendaraan berhenti, tak ada derap ataupun jejak langkah kaki. Suasana tetap senyap sepi. Mereka berlima, berpostur tinggi besar dan berpakaian hitam-hitam. Pintu memang tidak ditutup sehingga kucing pun dapat menyusup leluasa, tapi kucing tetap meninggalkan jejak kaki berbeda dengan mereka berlima.

Dua orang masuk tanpa permisi, mendekati kang Karim. Lainnya menunggu di luar. Tutup keranda dibuka. Lalu keduanya terlihat sibuk mengamati tubuh kang Kang Karim. Mencari sesuatu. Entah apa yang mereka lakukan, tak terlihat mengambil ataupun memberi sesuatu terhadap kang Karim. Begitu salah satu mengangguk, keduanya melangkah keluar. Lainnya mengikuti, hilang ditelan pagi.

Bapak terbangun menjelang subuh karena mencium sesuatu tak sedap, seperti kentut kang Karim. Dan betapa kagetnya melihat pintu keranda sudah tidak ditempatnya. Bapak bukan orang yang suka aneh-aneh, tak terlintas sedikit pun di benaknya kalau mayat kang Karim bangun apalagi pergi. Nyatanya keranda pun ditengoknya dan isinya masih utuh.

Pundak pak Ilyas ditepuk pelan.

“Kang bangun, bantu aku.” Sambil tangannya menunjuk keranda.

Pak Ilyas pun kaget tapi bapak menenangkannya, bahkan diminta menemani. Bapak dan pak Ilyas, keduanya memeriksa mayat kang Karim. Lalu cepat-cepat mengembalikan tutup keranda, sebelum lainnya bangun. Jangankan bapak, pak Ilyas yang terlambat bangun pun bertanya-tanya apa yang terjadi. Bapak menceritakan apa yang diketahuinya, pak Ilyas pun tidak curiga kalau-kalau bapak menyembunyikan sesuatu. Keduanya sepakat tidak akan membeberkan kejadian itu, kepada siapapun.

”Apa mungkin ini sebuah pertanda Kang?” tanya pak Ilyas sambil meletakkan pantatnya di kursi.

“Mungkin, kita lihat saja apa yang akan terjadi.”

***

Pukul 09.00 WIB pak kayim memimpin upacara bagi keberangkatan kang Karim, menuju pembaringan terakhir. Ia mengawali ceramah panjangnya dengan menceritakan filosofi kematian dan pentingnya mengingat mati. Sambil menahan duka ia menceritakan sekelumit kenangan bersama kang Karim, semasa kecil. Lalu meminta kesaksian kepada semua yang hadir.

“Saudara Karim Parluji ini adalah kawan ngaji saya semenjak kecil. Dia pintar, alim dan sholatnya rajin. Bahkan almarhum pak Kyai Asrori sering memujinya bahwa kelak ia akan menjadi orang besar. Nah para hadirin sekalian, hari ini saya akan meminta kesaksian kalian mengenai kawan saya ini. Apabila kalian menyaksikan bahwa saudara Karim ini baik maka Allah SWT akan mengampuni segala dosa dan mencatatnya sebagai ahli surga. Namun sebaliknya, apabila kalian menyaksikan bahwa amal ibadah saudara Karim ini buruk maka Allah SWT akan mencatatnya sebagai ahli neraka.”

Suasana hening. Lima belas orang yang menghadiri upacara itu saling berpandangan, lalu tertunduk malu. Tahu persis apa dan siapa kang Karim yang setiap hari dilihatnya nongkrong di warung.

“Bagaimana Saudara-saudara, apakah jenazah saudara Karim ini baik?” suara pak kayim memecah keheningan.

Tak seorangpun mengangkat telunjuk, apalagi bicara. Seekor kucing yang sejak tadi menyimak ceramah pun tertunduk lesu, terus merangkak pergi. Ayam dan bebek menyingkir, seolah masih menyimpan luka karena polah kang Karim yang hampir setiap malam menyusuri kandang lalu mengurangi telor-telor mereka.

“Bagaimana Saudara-saudara, apakah jenazah saudara Karim ini baik?”

Tak ada suara. Laki-laki berjenggot yang sering memergoki kang Karim main wanita itu tetap mematung di kursi paling belakang. Mulutnya terkunci. Sesekali melirik ke samping, melihat gelegat kawan-kawan seperjuangan bersama kang Karim di meja judi. Semua tertunduk malu.

“Bagaimana Saudara-saudara, apakah jenazah saudara Karim ini baik?” tiga kali suara itu terdengar tanpa jawaban.

Masing-masing kepala mendidih, bekerja keras mencari-cari satu atau dua kenangan menyenangkan bersama kang Karim, tidak ketemu. Justeru yang muncul malah kenangan-kenangan sakit, sedih dan marah. Demikian pula isterinya yang masih menyimpan perih karena tamparan suaminya, meskipun rela tapi hati kecilnya masih sulit untuk memaafkan. Ia orang yang paling bingung karena perasaannya bercabang, susah sekaligus senang mengantar kepergian suaminya.

Matahari mulai tinggi. Melalui celah-celah dedaunan kelapa cahayanya turun membakar kulit. Anak-anak mulai gelisah, seseorang memeluk ibunya, erat-erat. Pemikul keranda paling depan menggaruk kaki dengan jari kaki satunya, hatinya menggerutu. Tetap tak ada suara. Diam. Mencekam.

Detik-detik waktu berjalan sangat lambat, tersendat-sendat. Jarum jam resmi berhenti mendetak. Semua menanti keputusan, tapi siapa yang berani memutuskan? Anak-anak, ibu-ibu ataukah bapak-bapak, tak seorangpun berani jawab. Itulah saat dimana sedetik berubah jadi keabadian. Sedetik untuk selamanya bagi nasib kang Karim. Seandainya bisa, kang Karim pasti bangun. Melompat dari keranda dan lari terbirit-birit, entah ke mana. Tepat sebelum kang Karim sempat bangun, tiba-tiba bapak angkat tangan. Seolah dosa-dosa kang Karim bersedia ditanggungnya. Semua kepala menoleh, “Krek!”

Bapak angkat bicara. Suara parau itu terasa berat namun pasti, “Sssa… sae, Pak Kayim!”

Tanah, batu-batu, pohon-pohon, binatang, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak dan seluruh penampakan yang menyaksikan kejadian tersebut terperangah. Kaget bukan kepalang. Keributan sempat terjadi, tapi tak selembar daun pun memulai. Tak seorang pun protes. Tak sesuatu pun menolak.

Mereka setuju, “Sae, sae, sae….”

Pak kayim tersenyum girang, tumpah air matanya. Ibu-ibu mengelus dada. Semua laki-laki berdiri, saling berjabat tangan. Tanpa pikir panjang pak kayim menutup khutbahnya. Berdo’a.

Jenazah kang Karim berangkat. Puluhan orang mengiring dari belakang. Suara tasbih, tahmid, tahlil dan takbir terdengar sayup-sayup sepanjang jalan menuju pemakaman.

Seusai pemakaman pak kayim mencari bapak, berhubung tidak tahu nama maka dipanggilnya pak Sae. Bapak pun menoleh. Akhirnya setiap kepala yang ada saat itu turut menyebut bapak dengan pak Sae. Seiring menyebarnya kajadian itu, nama pak Sae semakin meluas.

[Yogyakarta, 21 September 2011]

[1] Kayim ialah seorang perangkat desa yang bertugas memimpin jalannya upacara keagamaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here