Reformasi Budaya

Part-1 : Just Doing My Job

0
54
Reformasi Budaya

Ada kisah fiktif yang ingin saya ceritakan. Alkisah Pak Amat yang bekerja sebagai polantas sedang melakukan razia. Lantas lewatlah Pak Amit yang merupakan tetangga dari Pak Amat dengan mengendarai vespa bututnya. Naas, Pak Amit rupanya tak memiliki sim. Namun Pak Amat sungkan untuk menilang Pak Amit yang notabene merupakan kawan nongkrongnya di pos ronda. Pak Amat pun membiarkan Pak Amit berlalu begitu saja.

Pak Amat tidak melakukan job nya sebagai polantas karena rasa sungkan dengan tetangga dan kawan nongkrongnya. Dan Pak Amat merasa biasa saja, kelalaian dalam melakukan tugasnya tak sampai membuat hatinya terganjal.

Tiga bulan kemudian, seperti kesetanan Pak Amat mencari Pak Amit untuk menghajarnya. Rupanya ia mendengar desas desus bahwa Pak Amit telah mengganggu istrinya. Dia tak lagi peduli bahwa Pak Amit adalah tetangganya dan kawan nongkrongnya di pos ronda. Yang dia inginkan cuma menghajarnya.

Mengapa tindakan Pak Amat terhadap Pak Amit berbeda dikasus pertama dan kedua? Jawabannya adalah “sistem kehormatan” atau “sistem harga diri”. Masing-masing orang memiliki hal-hal yang tabu atau “sacred” yang menjadi bagian dari sistem harga dirinya. Bagi Pak Amat (dan hampir semua orang lainnya) istri adalah hal “sacred” yang masuk kedalam sistem harga dirinya. Namun pekerjaan atau job tidaklah masuk kedalam sistem harga dirinya. Oleh karena itu, Pak Amat merasa ringan saja tidak melakukan tugasnya dengan benar (menilang pak Amit) karena sungkan dengan tetanggnya tersebut.


Bahasa memang menujukan karakter suatu bangsa. Bahasa adalah alat politik luar biasa untuk mencitra dan merekayasa kesadaran sebuah bangsa. Di Amerika saya menyadari bahwa kata “Job” sering dipakai dalam keseharian.

Ketika anak di sekolah melakukan suatu hal yang baik, gurunya menyanjung dengan kalimat: “You do a great Job”.

“Good job” adalah kata paling lazim untuk memuji prestasi kawan atau kolega.

“You just have one Job!” adalah kalimat yang lazim dipakai untuk mengungkapkan kemarahan pada orang yang nggak becus melakukan kerjaannya.

“Don’t tell me How to do my job!” Sering saya dengar difilm2, mengesankan bahwa “job” masuk ke wilayah yang sangat personal.

Dan dalam situasi fiktif yang saya ceritakan diawal, Ketika Pak Amat menilang Pak Amit dia akan bilang “I am just doing my job”

“I am just doing my job!” sering saya dengar sebagai kalimat sakti yang didengungkan ketika seseorang harus melakukan “job” nya meski harus melanggar hubungan pertemanan dsb.


Saya tumbuh di lingkungan yang menganggap bahwa mencari kerja = mencari uang semata. Kerja tidak dimasukan kewilayah personal yang lebih “sacred” semisal aktualisasi diri, pengabdian apalagi sistem harga diri. Orang Jawa sangat komunal (filosofi makan enggak makan asal kumpul), menekankan harmoni dan keselarasan. Oleh karena itu, penerimaan sosial atau status sosial sangatlah penting bagi seseorang. Penerimaan dan status sosial lah yang akhirnya menjadi bagian dari sistem harga diri seseorang.

Yang saya khawatirkan adalah hal ini turut menyumbang suburnya korupsi dan nepotisme di negeri ini, seperti pada kisah fiktif Pak Amat dan Pak Amit diatas. Secara umum negara-negara yang indeks korupsi nya buruk memang negara2 yang masyarakatnya komunal.

Salah satu hal baik yang saya pelajari di Amerika adalah “job” lebih dalam maknanya dibanding sekedar mencari uang. “Doing my job” masuk ke sistem harga diri seseorang. Orang akan merasa malu atau minimal ganjalan berat di hati ketika dia gagal melakukan tugasnya.

Memasukan “doing my job” kedalam sistem harga diri adalah hal baik, satu mentalitas yang harus dibangun.

Kata kawan saya, cita-cita itu seharusnya kata kerja (predikat), bukan kata benda (objek). Waktu saya kecil, cita-cita yang populer bagi kanak2 adalah menjadi polisi, presiden, ABRi, guru, dokter. Barangkali kita perlu melatih anak-anak kita untuk memiliki cita-cita sebagai kata kerja:

“Saya ingin melindungi masyarakat dari orang jahat dengan menjadi polisi”

“Saya ingin membuat orang pintar dengan menjadi guru”

“Saya ingin menyembuhkan orang sakit dengan menjadi dokter”

“Saya ingin mengabdi pada negara dengan menjadi pegawai negeri”

Dan hal ini kemudian bisa berkembang menjadi:

“Saya ingin membuat kereta api yang bisa terbang”

“Saya ingin bikin 1000 rumah buat orang miskin”

Sampai saya SMP cita-cita saya adalah menjadi pegawai negeri. Bukan karena pengabdian pada negeri, melainkan karena penerimaan dan status sosial. Saya berterima kasih kepada guru fisika SMA saya yang telah melambungkan cita2 saya lebih tinggi.


“I want to make a difference” adalah kata yang lazim diungkapkan ketika orang ditanya kenapa melakoni pekerjaan tertentu, entah tulus ataukah basa basi.

Empat kali saya pernah menjadi ketua organisasi dilevel sekolah/kampung/kampus. Saya tidak menafikan bahwa dulu saya bangga dengan status tersebut. Saya menganggap bahwa menjadi ketua adalah pencapaian.

Namun kini saya sadar bahwa berhasil menjadi ketua hanya menunjukan kalau saya bagus dalam kampanye atau saya cakap dalam berpolitik.

“But did I really make differences?” Pertanyaan itu kini menghantui saya. Apakah saya benar2 membuat perbedaan ketika mengemban amanah2 tersebut.

Menjadi ketua, PhD, research associate hanyalah label atau status. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah saya benar2 membuat perbedaan? apakah saya membuat impak yang nyata? ataukah saya hanya menjalani rutinitas untuk gaji?

Menjadi ayah juga sebatas label. Apakah saya sudah melakukan “job” saya sebagai ayah dengan baik?


Ada beberapa bagian dari budaya kita yang perlu direformasi. Memasukan “job” kedalam sistem harga diri adalah salah satunya. Tidak akan ada pejabat yang korupsi dan nepotisme jika “doing my job” sudah masuk kedalam sistem harga dirinya. Indonesia akan besar dan berjaya jika masing2 orang melakukan “job” nya dengan sebaik-baiknya.

Orang tidak bangga dengan label2 seperti menjadi A atau B melainkan pada perbedaan dan dampak yang dia buat ketika menjadi A atau B.

Dan saya membayangkan ketika situasi Pak Amat dan Pak Amit terjadi:
Pak Amat: “Mohon maaf Pak Amit, bapak saya tilang ya. punten, I am just doing my job”
Pak Amit: “Oke Pak, tenang aja.. saya paham koq. you are just doing your job”

Dan malam harinya Pak Amat bergumam sebelum tidur terlelap: “I did a good job today, I am so proud of myself.”


Suatu malam Khalifah Umar masih bekerja. Lantas putranya mengetuk pintu, Ia ingin berbincang dengan ayahnya. Ayahnya pun bertanya, urusan keluarga atau urusan negara.

“Urusan keluarga.” Kata sang putra.

Maka Khalifah Umar pun mematikan nyala api di kantornya karena minyaknya dibeli dari uang negara sementara perbincangan Ia dan putranya adalah urusan keluarga.

Mereka berdua pun bercakap2 dalam gelap.

Charlottesville, January 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here