Ruang Publik, Taman dan Olahraga

0
78
ruang publik, taman, dan olahraga
Danau di Florida

Foto diatas adalah taman dengan danau kecil yang terletak di seberang tempat tinggal (sementara) kami. Florida memang memanjakan warganya dengan ribuan taman yang tersebar. Taman-taman ini menjadi ruang publik tempat warga bersantai, jogging, bercengkrama, hingga menikmati pertunjukan musik.

Keberadaan taman-taman ini menginspirasi saya akan konsep pembangunan yang tak melulu menitik beratkan persoalan ekonomi. Dimensi ekonomi hanyalah satu sisi dari pembangunan. Esensi pembangunan adalah membangun manusia secara utuh, makhluk yang tak hanya melakukan transaksi ekonomi melainkan juga makhluk kebudayaan yang memerlukan ekspresi kesenian.

Demikian juga dengan sekolah. Bahwa sekolah dibangun untuk membekali siswa dengan ketrampilan yg diperlukan agar “fit” dan “match” dengan organisasi ekonomi dan industri memang tak salah. Namun institusi pendidikan manapun selayaknya turut memfasilitasi siswanya untuk melakukan aktifitas-aktifitas kebudayaan dan berkesenian.

Saya baru memahami betul pentingnya ruang publik, dan ruang-ruang untuk berkesenian dan melakukan aktivitas kebudayaan disini. Sebelum berangkat ke United States, imaji saya tentang pembangunan hanya berkisar tentang ekonomi; yakni bagaimana agar faktor produksi didistribusikan dengan adil. Pandangan saya berubah setelah saya merasa dimanja disini.

Selain ruang publik dimana saya bisa mendayung, atau sekedar berjalan menikmati alam, di kampus saya juga bisa menikmati Film (mulai dari genre superhero hingga Film eropa yg absurd), musik klasik, hingga berbagai fasilitas olahraga yang lengkap dengan jacuzzi dan spa. Tak ketinggalan kampus punya sirkus yang dimainkan dan dikelola oleh mahasiswa. Bahkan kampus juga menyediakan fasilitas (ruang, komputer dll) bagi penggemar video games, bersandingan dengan ruang untuk karaoke.

Dua minggu lalu saya menonton kumpulan film singkat yg dibuat mahasiswa2 jurusan perFilman. Yang menarik, anak anak diminta menulis script serta menjadi sutradara, dan kampus menyediakan artis artis profesional untuk berperan apapun sesuai script dan arahan mahasiswa. Hasilnya sangat luar biasa.

Pada intinya, kota dan kampus menyediakan segala fasilitas bagi saya untuk berkesenian atau melakukan aktivitas kebudayaan. Selepas keluar dari Nuclear research building, saya punya banyak pilihan : Menonton film, menikmati musik klasik, sirkus mahasiswa, olahraga, klub tari, atau mendayung di danau indah kepunyaan FSU reservation park.

Dan akhirnya terjawab pertanyaan besar tentang salah satu paradoks Amerika. Saya banyak menulis tentang keunggulan American : Confidence, kreatif, visioner. Padahal ranking pendidikannya biasa biasa saja. Darimana keunggulan ini mereka peroleh jika bukan dari sekolah? Salah satunya adalah kultur olahraga.

Kesan saya, orang Amerika ibarat kecanduan olahraga. Jam berapapun saya pulang riset, entah jam satu atau jam lima dini hari saya masih menjumpai beberapa orang jogging. Gym selalu penuh, perlu antri untuk memakai alat. Dan superioritas Amerika di ajang olimpiade bukan hanya buah dari pembibitan atlet yang sukses, melainkan olahraga secara umum yg telah menjadi “DNA” dan bagian jiwa masyarakat.

Saya sering melihat satu keluarga besar mulai dari kakek hingga cucu pergi bersama menonton pertandingan (softball, tenis, football dll). Saat football sesion, ratusan ribu orang berkumpul memadati jalanan kota. Pertandingan olahraga menjadi momen “Halal Bihalal” nya orang US selain Thanksgiving. Dan baru kali ini saya bisa menikmati pertandingan olahraga yang tidak mainstream seperti renang, marathon atau gymnastic.

Media Amerika dengan cerdasnya membungkus tayangan olimpiade ini dengan narasi-narasi personal, seperti bagaimana Michael Phelps jatuh bangun hingga menjadi Superhero peraih medali, ada pula Maya Dirado si swimmer yg juga alumni Stanford dan sebagainya.

Narasi-narasi ini tanpa sadar menyihir saya menjadi supporter Amerika yang turut bersorak hingga National Anthem Amerika berkumandang. Olahraga telah menjadi bagian dari Jiwa masyarakat Amerika.

Kesimpulan saya, Olahraga lah (bukan pendidikan formal) yang menyumbang pembentukan karakter American : Confidence (kadang songong), Kreatif, dan visioner. Olahraga melatih endurance (daya tahan), determinasi. Upaya mencapai rekor-rekor baru, melatih daya untuk selalu menciptakan kebaruan. Dan bukankah Rasul menyuruh kita untuk belajar Berkuda, memanah dan berenang?

Pada akhirnya saya berharap agar semua kepala daerah menyadari bahwa pembangunan tak semata berdimensi ekonomi, melainkan juga pembangunan ruang publik dan ruang ruang budaya dan berkesenian. Juga fasilitas dan support agar olahraga menjadi bagaian dari keseharian masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here