Saleh Seleh

0
32
Salah Saleh

Aku sedang menatap purnama ketika mengingat cinta, Liliku,” begitulah pembukaan isi surat yang hendak ditujukan kepada Surti. Saleh masih menatap rembulan namun pikirannya terus terbang, melayang melampaui apa yang sedang ditatapnya. Langit tampak cerah, purnama malam bertengger angkuh berkawal jutaan gemintang yang tak kalah angkuhnya. Sementara embun turun melenggang, mengabarkan bahwa malam akan sangat panjang. Hawa mistis Jum’at Kliwon tertangkap basah oleh sensor serangga-serangga yang sempat terjaga, sayap mereka berderik lemah.

Sedetik sebelum selesai dengan hisapan terakhir puntung kreteknya, tiba-tiba sesosok bayangan hitam melompat, “Braaak!”

“Cit, cit, ciit….”

Saleh terkejut bukan kepalang. Sontak berdiri, merinding, jantungnya berdegup kencang. Gelegat mata lelahnya mencari sumber suara.

Kretek yang terapit di jarinya melompat. Lalu jatuh begitu saja. Beberapa detik Saleh masih tak sadarkan diri. Bengong. Begitu hidungnya mencium sesuatu yang aneh barulah ia menyadari rokoknya. Tikar tempat duduknya mengepul, gosong. Sebuah lubang hitam tampak membara. Terus melebar. Dalam sepersekian detik diambillah puntung itu lalu dilemparkannya ke arah larinya si kucing hitam.

Sialan, kucing!”

Rangkaian peristiwa itu terjadi sangat singkat dan spontan. Kucing hitam yang melompat karena melihat seekor tikus, sama sekali tak tahu-menahu soal batin yang sedang bergolak tak bertepi. Sayangnya ia tak dapat berkeluh-kesah kepada kucing. Seandainya bisa pun, kucing hanya akan terbengong dan meong. Sekali lagi, meong. Meski dalam posisi yang sama ia dan kucing sama-sama makhluk malam.

Saleh kembali mengambil rokok dan koreknya, sama sekali tak terlihat asap berbentuk lingkaran keluar dari mulutnya seperti biasa. Padahal kepulan asap berbentuk O yang semakin membesar di udara itu baru beberapa bulan terakhir diganderunginya. Kini hembusan asapnya yang begitu cepat dan kasar menandakan bahwa batinnya sedang gundah-gulana. Hatinya betul-betul kalut hingga ia sendiri tak paham mengapa sampai demikian. Ia hanya meyakini satu hal: cintanya sedang diuji.

Saleh melanjutkan suratnya. “Sekuntum lili mekar di taman hati. Kapankah Tuhan yang maha Bijak datang memaksamu sehingga kau balik menuntutku dengan ini dan itu? Padahal kita sepakat bahwa pelaminan berjalan apa adanya.”

Tarikan nafas panjangnya terasa berat, tak kuasa menahan derai air mata. Semangatnya menjadi ciut justeru setelah menyadari, hanya rokok dan koreklah hartanya yang tersisa. Tak ada selembar duit lusuh pun terselip di sakunya. Dompetnya yang tampak tebal pun kosong, kecuali tagihan-tagihan utang. Kedua orang tuanya yang telah meninggal, tak meninggalkan warisan apapun kecuali utang-utang yang belum terbayar.

Nasibnya sebagai mahasiswa tingkat akhir terasa tiada berbeda dengan kawan-kawannya yang jadi pengangguran di desa. Skripsi pun belum dapat diurus karena terbentur urusan administrasi. Belum lagi harus ngurus nilai TOEFL, KKN, tugas mandiri dan sebagainya. Semua harus diurus secepat mungkin, dalam waktu yang berdekatan dan kalau tidak, berarti semester depan harus hengkang kena DO (drop out). Nalar mahasiswanya tak dapat menerima mengapa hidupnya jauh lebih menyakitkan daripada petani-petani desa, jauh sekali bedanya. Barangkali status sebagai mahasiswa hanyalah kedok ketika seseorang tak sudi disebut bodoh dan pengangguran, meski menurutnya sama saja.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ia mengandalkan jasa media yang bersedia menerbitkan tulisannya. Seorang penulis lepas setingkat Saleh, hidupnya memang telah menyatu dengan rangkaian kisah-kisah tragis serta memilukan tapi dari situlah karyanya terlahir. Lalu diserahkan kepada media. Persaingan pasar yang demikian ketat, sayangnya tidak selalu menguntungkan, berkali-kali tulisannya ditolak. Bila sudah demikian jadwal puasa pun kembali berlaku.

Hidup ini,” kembali ratapnya kepada Surti, “bagaikan memasang undian, apabila kau sedang beruntung maka karunia Tuhan tak akan ke mana. Namun sebaliknya, kau harus bersabar bila Tuhan sedang mengujimu, meski sabarmu harus diawali dengan air mata.”

Saleh belum beranjak dari duduknya semula, dilihatnya kembali bayang-bayang Surti dalam purnama. Pikirannya terus melayang, berputar-putar, kini malah menjadi lebih kritis. Ia mulai berani mengkritisi selera cintanya sambil terus mencari-cari alasan mengapa jatuh cinta terhadap Surti. Sambil mengingat-ingat waktu pertama kali mereka saling kenal. Meski bila diramal menurut hitungan primbon Jawa, sesuai dengan pelajaran yang didapatkan dari kakeknya dulu, bila dirinya berhasil menikahi Surti maka nasibnya akan cerah di kemudian hari. Sebab gabungan angka weton keduanya akan menghasilkan surplus, alias jodoh yang sangat ideal.

Tapi memang demikianlah Surti, seorang wanita yang terlahir dengan weton Senin Legi memiliki watak agresif dan berani terhadap laki-laki. Apabila Saleh tidak tegas pasti harga dirinya harus ditaruhankan, karena selalu diinjak-injak olehnya. Ia melihat sendiri ramalan kejawen itu terbukti. Selama dua tahun pacaran, entah mengapa selalu harus mengalah dari Surti yang kelewat penuntut. Dan kalau bukan dirinya yang selalu harus mengalah, pasti hubungan mereka telah patah semenjak pertama. Hati kecilnya merasa lelah menjalani hubungan yang berat sebelah semacam itu, tapi barangkali karena jodoh sehingga ia rela menjalaninya. Demi cinta.

Demikian pula kemarin, tiba-tiba Surti datang jauh-jauh dari Bandung ke Jogjakarta. Ia mengetuk pintu dan masuk dengan salam. Seperti biasa dandanannya modis, hangat dan ceria tapi diam-diam menggenggam duri. Saleh tak kuasa menolak tatap matanya yang tajam. Lalu secara sepihak Surti mengubah rencana pernikahannya.

Mas, kalau kamu tak sanggup mengusahakan ini, ini, ini maka pernikahan kita batal. Titik!”

“Maksudmu apa?”

“Aku malu Mas, kalau pernikahan kita tidak dirayakan.”

Malamnya Surti tidur mesra dengan Saleh setelah seharian mengajak jalan-jalan keliling Jogjakarta. Candi Prambanan, Gembira Loka, Tamansari tapi Saleh menolaknya kecuali Malioboro. Surti cemberut tapi Saleh berhasil meyakinkan.

Kamu bisa belanja apa saja di sana.”

Surti pun menurut. Bukan menurut tapi girang karena diajak belanja.

Aku mandi dulu.” Saleh merapikan jenggot serta kumisnya. Ia berangkat mengenakan topi dan kacamata hitamnya, layaknya James Bond dalam penyamaran.

Saleh merasa senang, sekaligus heran melihat Surti yang meluap-luap gembira. Dasar wanita kalau sudah masuk mall, semua dipegang, apa-apa dibelinya, mulai dari souvenir, pakaian hingga peralatan pribadi wanita. Semuanya Saleh yang membayari.

Ia kini hanya bisa meringis, kecut. Tatapannya kosong.

Hari pernikahan tinggal sebulan, urusan administrasi telah beres. Undangan tinggal disebar. Namun soal pernikahan yang harus dirayakan seperti ini dan itu, jelas tidak masuk rencana. Apalagi dengan perubahan rencana tiba-tiba, sama sekali tak terlintas. Membayangkan saja tidak berani, tapi nyatanya benar-benar terjadi. Saleh tak habis mengerti dengan pikiran wanita yang dengan gampangnya molah-maleh.

Tidak realistis!,” puntung rokoknya dibanting.

Seberapa cantikkah Surti sehingga aku rela mencium kentutnya!”

Meski demikian jengkel, ia tak rela kehilangan cintanya. Saleh tak mau diremehkan wanita untuk sekian kalinya.

Ia kembali menguras kepala, memikirkan apa yang dapat diusahakan dalam sebulan. Cari kerja, kerja apa, di mana? Utang, siapa lagi yang sudi mengutangi? Barangkali menulis sepuluh naskah, seandainya media menerbitkan semuanya, tentu mengagumkan! Sayangnya ini malam yang tidak menguntungkan bagi Saleh, malam yang tidak inspiratif. Tiada sekelebat inspirasi pun datang menghampirinya.

Angin malam yang biasa membelainya mesra, kini menusukkan titik-titik embun yang berjatuhan terus hinggap di mana-mana. Semakin jauh matanya memandang, Saleh merasa tak rela kehilangan Surti. Tapi jalan pikirannya masih buntu soal bagaimana cara dirinya membuktikan ketidakrelaan itu. Cinta sedang diuji tapi pikiran terjeruji, demikian pikirnya.

Ia coba membuka nalar matematisnya. Utang-utangnya yang berserakan, dihitungnya lagi. Domet dari saku belakangnya keluar. Satu per satu dibukalah kertas-kertas itu dengan teliti. Sekitar 20 lembar, tagihan semua.

Minggu ini, tiga orang yang akan datang menagih,” sambil garuk-garuk kepalanya. Barangkali satu garukan dapat mengurangi pusingnya, namun tiga kali menggaruk keadaan tetap sama. Garukan kepala memang bukan solusi bagi beban utang.

Kertas-kertas itu dimasukkan lagi ke dompetnya. Dompet kembali masuk kantongnya. Tangan kanannya meraba mencari-cari rokok. Tinggal sebatang. Bungkusnya diremas lalu dilempar, tepat mengenai sasaran yang tak pasti. Ia tak peduli.

Klek,” api menyala. Asap mengepul.

Sambil memejamkan mata, ia duduk bersila. Gelegatnya terlihat seperti mencari-cari relaksasi, namun gagal. Ia coba lagi, gagal lagi. Kini berdiri, lalu maju beberapa langkah. Bukan malah udara segar yang ditemui tetapi hawa dingin. Dengan rasa kecewa ia kembali, duduk seperti semula. Hisapan rokoknya hambar, bahkan terasa pahit. Perasaannya sangat gelisah, sama sekali tak ada keheningan di hatinya meski malam semakin larut, semakin sepi dan semakin dingin.

Persawahan yang menghampar ribuan meter di hadapannya tampak diam mengering, musim panen telah berlalu. Lebih dari tiga bulan. Sementara musim tanam pun belum bisa dimulai karena sumber air mengering, musim kemarau sedang melanda. Beberapa bagian sawah masih dapat dimanfaatkan karena kelembabannya, pohon-pohon singkong dan umbi-umbian berjejer dengan sistem tumpangsari. Bagian sebelah timur lebih parah lagi, tanahnya dibiarkan kosong. Bahkan kalau siang hari, tampak jelas garis-garis retakan, selebar puluhan centimeter. Ilalang pun mati.

Padahal ketika hujan, tak seorangpun akan duduk enjoy apalagi mematung begitu karena tepat di bawah gubuk yang sedang disinggahinya itu, tempat dimana kakinya berpijak mengalirlah air yang sanggup menggenangi seluruh area persawahan. Beberapa hari lalu si pemilik lahan membangun gubuk darurat di situ. Beratapkan jerami dan sebuah lampu 5 watt tergantung dengan kabel sepanjang puluhan meter dari rumah. Suasananya begitu romantis.

***

Kelap-kelip cahaya senter tampak di kejauhan. Sorotnya tajam. Saleh tetap termangu dengan selembar kertas yang telantar. Seekor kunang-kunang melintas persis di depan mukanya, begitu cepat. Hampir menerabas mukanya.

Tidak begitu lama sorot-sorot senter itu semakin jelas, semakin dekat. Puluhan orang berjalan cepat sedang menuju arahnya. Deru langkahnya terdengar begingas, seperti sedang berburu sesuatu, tapi bukan ular atau kodok sawah. Seorang setengah baya berjalan paling depan, langkahnya menunjukkan bahwa dirinya warga setempat. Di belakangnya, lima orang berseragam polisi siap dengan senjata api. Lainnya di belakang.

 “Di sana pencurinya. Ayo tangkap!,” seseorang berteriak.

“Kosong!”

Seorang polisi meraba tikar dan sebuah Zippo di atasnya, “Masih hangat.”

“Pasti belum jauh, menyebar!”

***

Saleh berhenti. Dari jarak yang tidak begitu jauh diamatinya orang-orang itu dengan seksama. Bibirnya tersenyum bangga: lolos lagi dari polisi.

[Jogjakarta, 12 September 2011]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here