Senja Para Pengungsi

0
93
Senja Para Pengungsi

‘Habibah, mau pulang sekarang?’ Kalimat Madam membuyarkan perhatianku yang tertuju pada wanita berumur senja yang baru saja aku jumpai di masjid At Taqwa Göttingen. Aku tengah memperhatikan kaos kaki bolong yang dikenakan wanita yang memakai jubah musim dingin berwarna hitam. Kibar kerudung putihnya tidak terlihat, tersembunyi di balik jubah. 

Was?’ Tanyaku …

Madam mengajakku pulang. Dia akan bertanya mengenai surat yang tadi pagi diterimanya, surat dari kantor urusan tenaga kerja.  Menjadi imigran adalah pilihan yang diambil Madam Nuri. Perang dan kondisi negara yang tak aman membawanya dan kakak laki-lakinya beserta keluarga berat hati meninggalkan Kabul, Afghanistan sekitar 37 tahun yang lalu. Sebagian kerabat lain memilih hijrah ke Amerika dan Kanada.

Madam, begitu aku menyapanya, memilih mengikuti kakak laki-laki tertuanya pindah ke Hamburg, kota di pesisir utara Jerman. Setelah menikah dengan Mr. Aziz yang juga imigran asal Afghanistan, mereka memutuskan pindah ke kota Göttingen, kota kecil di wilayah Lower Saxony, Jerman.

Kehidupan yang aman dan nyaman dilakoni Madam setelah pindah ke Jerman, walaupun urusan administrasi dan macam hal yang menyertainya kadang membuat Madam cukup lelah mengingat usianya yang sudah lebih dari separuh abad. Seperti hari ini, dia harus tahu benar apa isi surat dari kantor urusan tenaga kerja dan hal apa yang harus dilakukan.

Bahasa Jerman Madam tak beda denganku walaupun dia tergolong sudah sangat lama tinggal di negeri Jerman, kadangkala di sela percakapan kami, muncul kalimat dalam bahasa Farsi, bahasa Persia, bahasa ibunya yang membuatku hanya melongo mendengarnya. 

Berdua dengan mengendarai sepeda masing-masing kami menuju apartemen Madam di lantai empat gedung apartemen di dekat Aliman markt, toko kelontong Pak Muhammad, warga negara Jerman asal Irak yang berjualan bahan-bahan makanan Arab, Turki, Persia, Rusia, Asia dan menjual daging halal.  

Surat itu aku baca dengan seksama. Di akhir surat terdapat keterangan untuk mendatangi kantor ke tenaga kerjaan dengan jam buka kantor tertera di lembar surat. Tak begitu lama di tempat Madam, aku pamit, kembali ke kantor ku yang berjarak sekitar tujuh menit dari apartemen Madam menggunakan sepeda.

Hari itu hari Jumat, biasanya aku sholat dhuhur sekaligus sholat jumat di masjid At Taqwa, masjid paling besar di Göttingen yang terletak di tikungan sebelum stasiun kereta api. Masjid yang menempati bekas gudang sebuah pabrik itu kini tampak lebih seperti masjid pada umumnya, walaupun dari luar masih terlihat seperti gudang, namun interior masjid sudah seperti masjid pada umumnya, dibandingkan saat pertama aku datang di Göttingen, lantai masjid belum dialasi karpet tebal khas Persia.

Hari biasa, sholat dhuhur biasanya di masjid Aliman, dekat apartemen Madam dan Aliman Markt. Aku dalam akhir penulisan disertasi, waktuku kuhabiskan di kantor sampai malam menjelang. 

Gerimis kecil tiba-tiba turun saat aku mengayuh sepeda pulang. Hari ini kuputuskan untuk sholat maghrib dan Isya di kantor, menggelar karpet kecil pemberian Bli Aryk dan mba Ayu, mahasiswa doktoran asal Bali yang sudah lulus satu semester aku di Göttingen. Sepanjang jalan aku terus memikirkan wanita berjilbab putih berkaos kaki bolong yang baru aku lihat hadir di solat Jumat siang itu. 

‘Hai! Saya Yaman, ini Zaid adik saya, dan itu nenek kami’ Seorang anak laki-laki sekira dua belasan tahun menyahut saat aku mengucapkan kata ‘Hallo’ kepada seorang anak yang disebut memiliki nama ‘Zaid’. Zaid aku jumpai di masjid Aliman setelah sholat ashar. Matanya yang hitam bening dan senyum polosnya sangat menyejukkan.

Tak seperti anak-anak lain di masjid yang berkeliaran, bermain, dan mengoceh sampai berteriak, Zaid duduk manis di pojok belakang tempat sholat area jamaah wanita. Wanita yang mereka sebut nenek masih belum menyelesaikan ibadahnya. Hingga selesai sholat, wanita itu masih khusyuk di tempatnya. 

Wanita berjilbab putih itu tersenyum setelah Yaman, cucunya mengenalkanku padanya. Kerut-kerut di wajahnya tak dapat menghapus kecantikan yang tetap terlihat di usia senja. Senyumnya tulus member kesejukan bagi mata yang melihatnya. Darinya aku tahu, dia bernama Dallal. 

‘Assalamu’alaikum!’ Pintu masjid Aliman terbuka, udara dingin berhembus disertai tubuh yang tersembunyi di balik mantel musim dingin, yang tak lain adalah Madam. Nafas Madam memburu, dengan wajah cemas bertanya apakah sholat ashar berjamaah sudah selesai. Kekecewaan terlihat di wajah Madam ketika tahu bahwa jamaah sholat ashar telah dilaksanakan. 

Laporan seputar urusan dengan kantor ketenaga kerjaan mengalir dari cerita Madam, tanpa kami sadari nenek dan kedua cucunya telah keluar dari masjid. 

‘Apa yang harus kulakukan?’ Madam meminta pendapatku. Wajah senjanya tak bisa menyembunyikan kegundahan di hatinya. Pagi itu ia menerima kabar bahwa untuk mendapatkan uang pension yang selama ini diterimanya rutin dari kantor balaikota, dia harus bekerja sekitar 3 jam sehari dalam seminggu dikarenakan usianya masih di bawah tujuh puluh tahun. Peraturan yang tidak ada sebelumnya.

Sejak suaminya meninggal sepuluh tahun yang lalu, secara rutin Madam menerima uang pensiunan yang diberikan pemerintah kota. Uang itu untuk membayar sewa apartemen dan kebutuhan sehari-hari, tak begitu besar namun cukup. Madam yang telah berpindah kewarganegaraan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga Jerman. Pun petugas di ketenaga kerjaan meng-klaim bahwa terjadi kekeliruan, seharusnya Madam mampu bekerja dan membayar pajak kerja. 

‘Tak kau coba meminta surat rekomendasi ke dokter Sahila?’ tanyaku kemudian. 

Ya, Madam memang masih bekerja, hanya saja di bawah tangan, tanpa prosedur resmi. Dokter Sahila adalah teman sekaligus ‘majikan’ Madam. Madam bekerja untuk Sahila dengan menjaga dua anaknya yang berumur empat belas dan sembilan tahun, hanya menjaga, walau terkadang mencuci dan memasak dilakoninya. Pikirku, sesama Afghan pasti akan saling tolong …

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here