Senyum Mentari

0
79
Senyum Mentari

CUACA kota siang ini terik tapi meninggalkan becek disela jalanan kota karena hujan deras tadi malam, membuat anak-anak riang untuk sekedar memainkannya dengan sepatu sekolah hingga terdengar suara “cek cek cek ” di setiap langkahnya. Mereka tidak tahu bahwa permainannya meninggalkan jejak kotor di sepatu masing-masing, insting seorang anak tidak memikirkan akibat dari apa yang dilakukannya tapi lebih bagaimana menikmatinya.

Di gerombolan itu ada seorang anak perempuan cantik, umurnya kira-kira 7 tahun. Masih kelas satu di sekolah dasar favorit di kota ini. Tapi ada yang berbeda dari anak ini. Sewajarnya anak-anak seperti dirinya itu riang, penuh dengan bau permen, penuh dengan pertanyaan, kejutan. Atau mungkin dengan wajah polos ketika menenteng tas sekolah waktu pulang, tapi dia tidak.

Anak ini berbeda. Bukan karena dia cacat ataupun mentalnya terganggu. Tapi, karena raut wajahnya yang  amat serius, padahal dia adalah anak-anak. Wajahnya itu menggambarkan masalah yang benar-benar besar dalam hidupnya, seperti orang dewasa yang punya masalah besar dalam dirinya. Tapi, anak ini masih sekolah dasar, apa wajar punya masalah?

Kita sebut saja namanya Mentari.

Mentari baru saja pulang sekolah, karena jarak rumah dengan sekolah kebetulan dekat, dia dan teman-teman satu kompleknya pulang berjalan kaki menyusuri setapak-setapak jalan komplek. Teman-temannya Bernyanyi, bergosip layaknya gosip anak sekolah dasar kelas satu yaitu tentang ibu guru ini, temannya di kelas yang seperti ini dan satu dua tentang cita-cita yang ingin digapai.

Ada banyak sekali. Mentari juga ikut mengobrol, walaupun tidak mendominasi obrolan hanya nyempil satu dua. Dia ikut bicara sewaktu teman-temannya bercerita tentang PR menggambar cita-cita yang akan dipajang dan dikumpulkan esok lusa.

Lagi-lagi ada yang aneh dari Mentari. Jika teman-temannya punya cita-cita yang berubah, dia hanya punya dua saja. Seolah dia memang akan jadi seperti itu besoknya. Cita-citanya yaitu menjadi dokter bedah plastik atau dokter kencantikan. Aneh bukan, kenapa harus dokter bedah plastik atau kecantikan?

Setapak demi setapak sudah mentari lewati, dekat memang tapi memusingkan karena rute jalannya yang rumit. Mentari berhenti di sebuah rumah bergaya rumah komplek ibu kota yang sempit dan minimalis dengan suasana sibuk disekelingnya. Keringatnya mengalir, “jalan lumayan capek juga” batinnya. Lantas berseru “mama aku pulang”.

Dari dalam rumah terdengar suara “kalo sudah pulang ya lepas sepatu taruh di rak, trus ganti baju, ini koh malah laporan! Makan sini!” suara Mamanya.

“An..Anna sudah belum?” seru mamanya. Oh ternyata namanya ‘Anna’ bukan ‘Mentari’.

Dalam hati dia cukup kecewa, lalu bergumam “oh mama masih sama”. Sama seperti sebelumnya suka marah tapi perhatian. Andai saja sifat marahnya dikurangi pasti mama akan menjadi ibu ideal yang sikap marahnya karena sayang.

Esok lusanya hari yang ditunggu tiba, ketika PR menggambar cita-cita dikumpulkan. Malamnya Anna semangat betul mewarnai gambarnya dibawah lampu belajar di sudut ruang tamu itu. Meski diganggu oleh asiknya omelan mama dan neneknya ketika menonton sinetron. Dan ditambah dengan suara mesin jahit kuno yang sedang dimainkan ayahnya.

Betul ayahnya hanya seorang penjahit rumahan. Sebelum dikumpulkan siswa diharuskan bercerita terlebih dahulu didepan kelas, menjelaskan alasan kenapa dia menggambarnya. Yah, meski kelas satu sekolah dasar agaknya sekarang begitu, siswa diharapkan mampu berkomunikasi, tampil percaya diri dan tanpa rasa takut. Coba kita dengarkan penjelasan malu-malu anak sekolah dasar.

“Halo teman-teman e.. namaku Adam, cita-citaku menjadi dokter”

“Kenapa Adam ingin jadi dokter?” tanya ibu guru dengan semangat.

“Karena,, karena ……aku ingin menyembuhkan orang yang sakit”

Okelah okelah dia percaya diri.

Tiba saatnya giliran Anna. Anna maju dengan percaya diri dan sangat bersemangat. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu.

“Ehm…aku Anna, aku,…. cita-citaku menjadi dokter bedah plastik atau dokter kecantikan”

Meski terbata-bata Anna cukup berani.

“kenapa begitu An?” tanya bu guru.

“Karena..karena, aku ingin mengubah wajahku, aku ingin mengubah wajahku dengan menambahkan senyum yang paling manis didunia..karena… aku dilahirkan tanpa wajah senyuman, bibirku tidak bisa tersenyum. Kata nenek, sebelum aku lahir ibuku selalu saja marah dan perhitungan sekali dengan biaya kelahirannya, dia juga jarang tersenyum. Kata nenek aku harus tabah, karena mungkin ini adalah teguran Allah, mungkin karena itu ibuku hanya menamaiku Anna agar tidak terlalu banyak ditulis di akta, agar tidak menambah biaya…makanya aku..aku ingin menjadi dokter bedah plastik supaya aku bisa merubah wajahku dan orang-orang yang hidup tanpa senyuman..terimakasih”

Sadar atau tidak sadar Anna telah membongkar rahasia besar dalam hidupnya, yaitu wajah tanpa gurat senyuman. Untung dia masih kelas satu sekolah dasar, setelah menjelaskan cita-citanya, teman-temannya hanya bertepuk tangan tapi kemudian bercanda lagi seperti sudah lupa. Hanya Ibu Guru masih ternganga mendengarnya.

Ah, ternyata itu, ya benar sekali. Yang berbeda dari Anna hanya satu. Wajah tanpa senyuman. Dia tidak tertawa dan tersenyum, hanya satu saja ekspresi diwajahnya. Padahal senyum itu kan hal yang gratis, bahkan sebuah ibadah.

Tapi anak ini, dia tidak punya senyuman. Cita-citanya hanya ingin merubah wajahnya agar bisa tersenyum dengan senyuman paling manis. Untuknya, senyuman adalah hal yang mahal.

Ah.. agaknya didunia ini tidak ada yang gratis bukan? Mungkin seperti yang dikatakan Anna, membuat akta dengan nama yang panjang juga akan mendapat biaya sekarang.

14/12/2017 14:23. Dalung, Badung, Bali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here