We Are Indonesian Muslim, Not Muslim in Indonesia

1
166

“What the hell about religion,-” Kata sang co-supervisor ku, diiringi tawa lepasku …. hahaha ….*pasrah Kemudian kami berpisah di depan pintu gedung Utama jurusan. Dia akan mengikuti seminar genetik yang sudah mulai beberapa menit yang lalu…. aku kembali ke ruanganku.

Matahari musim panas sudah terasa. Seminggu yang lalu aku ‘ditagih’ oleh sang co-. Saat itu ketika menuju kantorku, tak sengaja bertemu dengan sang co- yang sedang membersihkan sisa rumput yang telah disiangi di belakang rumahnya. Jalan menuju kantorku percis berada di belakang taman, rumah sang co-

Siang ini kami habiskan waktu meeting dengan membahas Islam dan politik, hal yang sama sekali bukan kebisaan ku dan tujuanku bertemu dengannya…haha

“Islam is good, sometimes some of them (muslim) think what they do is what Allah wants through Islam”.

Islam itu baik, Prof. dan saya yakini itu, hanya saja terkadang cara berpikir muslim sendiri itu berbeda tergantung bagaimana mereka menginterpretasikan apa yang Tuhan perintahkan melalui apa yang termaktub di dalam kitab suci.

Kemudian cerita mengenai sejarah Islam sampai di nusantara dan bagaimana pergolakan politik dari dulu hingga sekarang terjadi, termasuk kasus seorang gubernur yang dianggap menistakan agama. Dari kisah tentang Hizbut Tahrir sampai Salafi-wahabi.

“we are Indonesian muslim, not muslim in Indonesia”. Kalimatku yang berujung pertanyaan Profesor tentang sekte-sekte dalam Islam, akhirnya penjelasan mengenai Sunni dan Syiah, dan empat madzab mengalir dari lisan.

Dan diskusi ini belum berakhir, jika Frau sekretaris tidak mengingatkan akan ada seminar tentang genetik, pasti kami masih di ruangan Profesor.

“you have to see me!” kata Prof. mengisyaratkan diskusi belum berakhir.
Allahumma ya Allah, tunjukkan hamba jalan yang lurus dan kejernihan berkata-kata … aamiin

Seketika aku teringat Dr. Martin Mahmud Kellner, scholar Islamic science dari Islamic Institute of Osnabruck yang diundang dalam seminar diskusi “Integration”, sebuah diskusi yang diadakan majelis Gereja Johaniskirche.

Dr. Kellner yang terlahir bukan Islam di Austria kemudian mencari kebenaran Islam dan mendalami Islam tak hanya di Jerman namun juga di beberapa Syeikh ber-sanad di bumi tanah para Nabi, beliau sangat “Jerman”, bersikap terbuka dalam setiap diskusi, termasuk saat menanggapi “gugatan” dari dua orang peserta asal Jerman yang mengatakan “Kami (Jerman) bukan negara liberal, kami memiliki budaya, cara hidup yang sama sekali tidak liberal, dan sebagai pendatang, seharusnya lah belajar tentang budaya kami, contohnya khasanah literasi kami”.

Sangat tenang dan jujur, sikap Dr. Kellner saat itu…. *terlebih memandang brewok pirangnya…adem😌

“Dengan akhlaq kita bisa memberi tahu bagaimana itu Islam” Kata Dr. Kellner di akhir diskusi empat mata diantara kami, aku dan dia

“Berbuat baiklah kepada sesama seperti Aku berbuat baik kepadamu” Firman Allah kepada manusia di muka bumi.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini